Rabu, 26 Desember 2018


Sebuah "KETOKAN"

Senin, 24 Desember 2018, setelah tak tentu arah mengelilingi Gunung Marapi dari Padang Panjang-Batusangkar-Baso hingga Bukittinggi, perjalanan dilanjutkan kelereng Singgalang. Sebuah tempat yang baru digarap untuk pariwisata yang bakal menjadi primadona di daerah Agam.

Sekitar pukul setengah enam sore kami baru sampai di daerah Pakan Sinayan dan masuk simpang, jalan menanjak adalah rute yang harus kami lewati nemenbus perkampungan dan ladang yang terasa asri. Dingin hawa dari pinggangan gunung Singgalang setia membelai, mengelitik tubuh yang mulai kedinginan.

Sampai dikampung terakhir, kami meminta ijin untuk menitip motor disalah satu rumah warga dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kami harus melewati jalan menanjak, butuh usaha yang lumayan keras untuk sampai di tujuan. Apalagi kami bukanlah tipe yang giat berolahraga.

Jingga menyapa di ujung senja, langit menampakkan keindahan spectrum orange bercampur warna nila takkala kami sampai ditujuan yang memanjakan mata. Lantungan suara adzan maghrib saling sahut menyahut terdengar dari satu mesjid kemesjid lainnya.

Setelah istirahat sejenak, dengan ditemani kopi panas dan gorengan yang kami bawa dari bawah, tubuh kembali melupakan lelah, lelah yang terbayarkan oleh pemandangan didepan yang sangat memanjakan mata. 

Ada satu ritual yang takkan dilupakan tatkala menemukan tempat yang kece menurut era milineal sekarang, yaitu ritual ber-photo. Bukittinggi dan daerah sekitarnya mulai menampakkan keindahan dari jutaan sinar lampu seiring malam yang semakin gelap .

Malam semakin pekat, cahaya lampu dari kota bukittinggi dibawah kami semakin memanjakan mata, membuat betah berlama lama walau dingin semakin membekukan. Dengan memanfaatkan kamera Smartphone dan harus dibantu pencahayan sana sini, satu persatu photo terekam dalam bingkai yang diharapkan. 

"Tok tok tok", ada bunyi seperti orang sedang memukul besi disalah satu sudut didekat mushala yang belum selesai dibangun. Nyali mulai ciut, tapi aksi jepret-jepret masih berlanjut seakan hal tersebut bukanlah apa-apa.


"Tok tok tok", terdengar bunyi yang sama untuk kedua kalinya, tapi yang ini terdengar lebih keras dari yang pertama. Bulu remang ditubuh mulai berdiri tak terkendali. 


Kami memutuskan menyudahi ber-photo dan segera mengemasi barang-barang kami. "Tinggalkan saja sedikit kopi disini," salah satu kawan berkata sambil menunjuk botol berkas yang sudah ada disana. “Sala (sala lauak) tinggal juga beberapa" imbuh yang lain.

Mendengar kedua orang kawan tadi berkata begitu, nyaliku dan yang lainnya tambah ciut. Kami mengemasi barang semakin cepat. Padahal kami belum puas memandangi keindahan yang terhampar didepan kami.. 

Bak lomba lari, kami berusaha adu cepat untuk saling mendahului satu sama lain Gonggongan anjing terdengar dari arah perkampungan semakin membuat dada semakin berdebar. Langkah kakipun semakin cepat. Mendekati kampung hawa mistis semakin tertinggal di belakang kami dan jantung sudah mulai berdetak normal

Setelah permisi dan berterima kasih pada penduduk tempat kami nitip motor. Kami langsung  menggas motor dan segera meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan jejak mistis dibelakang kami.

Sesampainya di Guguak Randah, dirumah salah satu kawan, perasaan lega mulai membanjiri pembuluh darah kami. Seakan kami terbebas dari satu hal diluar nalar. Namun kisah ini tidak hanya menjadi sejarah yang dilupakan dan menjadi topik yang kami pembicangan sepanjang sisa malam hingga kami terlelap dalam tidur.

Salah seorang teman yang memiliki kepekaan lebih akan keberadaan hawa mistis berkata "Seperti inyiak, dan hawa keberadaanya sebenarnya sudah mulai terasa saat kita sampai disana” tuturnya sambil meraih minum sebelum melanjutkan ceritanya “sejak awal saya sudah mendengar samar langkah langkah kaki berat namun saya acuhkan”. 

‘Inyiak’ adalah sebutan untuk harimau mistis, dipercaya beberapa orang yang dahulunya belajar suatu ilmu tertentu keika wafat akan menjelma menjadi sesosok harimau, ada juga ‘inyiak’ yang dipelihara sebagai penjaga. Terlepas dari benar atau tidaknya, satu hal yang jelas. Ada bagian dunia yang berbeda satu sama lain dibumi ini, ada makhluk ghaib yang tak kasat mata, dunia jin. Kita menempati satu bumi yang sama walau kita manusia tak punya kemampuan melihat dunia mereka. Namun terkadang jin ini menunjukkan eksistensinya, apa karna merasa terganggu dengan keberadaan manusia atau emang karena tugas mereka adalah menganggu manusia. Sehingga terkadang mereka menunjukkan keberadaanya.

Akan lebih bijak kalau kita manusia lebih berhati hati dan tak membiasakan keluar saat waktu waktu yang disukai oleh para jin. Seperti waktu maghrib misalnya. Semoga kita terlepas dari pengaruh dan godaan jin yang menyesatkan.











Selasa, 27 November 2018

     Assalammualaikum Cinta

Terik matahari masih setia menemani Kota Padang. Di tengah panasnya cuaca, aku terjebak dalam bus yang akan menuju kotaku yang sejuk, Padang Panjang. Sopir bus masih menunggu tambahan penumpang. Panas ini sudah membuatku hampir mimisan. Aah, aku masih saja tak suka Kota Padang.

Masih ada dua bangku kosong. Satunya bangku di sebelahku. Seorang ibu datang dengan keringat yang membanjiri bajunya. Dia duduk di bangku yang lain. Bangku di sebelahku masih kosong.

Si sopir menghidupkan bus dan turun lagi. Dia membiarkan mesin menyala. Entah untuk memanaskan mesin atau hanya memberi harapan pada para penumpang yang sudah kegerahan dan emosi karena tidak kunjung berangkat. Kami masih menunggu satu penumpang yang menguji kesabaran.

Lalu disitulah kau datang, memberikan kelegaan untuk semua orang. Aku terpaku diam. Bangku yang tersisa hanya di sebelahku. Artinya kau tidak bisa menolak untuk bersebelahan denganku. Seribu ucap dalam hati, bertasbih, berdoa meminta perlindungan Illahi agar aku tidak tergoda memandang wajahmu.


Walau kau dibalut pakaian serba tertutup, wajahmu tetap terbuka sehingga bebas kupandangi. Tapi itulah yang membuatku jadi tak karuan. Kau telah menghipnotis lelaki yang malang ini.

Sopir akhirnya menjalankan bus yang kunaiki, yang kau naiki, atau lebih tepatnya yang kita naiki. Gerah dan emosi penumpang pun perlahan menghilang. Tinggal aku yang masih panas dengan emosi yang lain.

"Bang, keberatan tidak memegang ini sebentar?" kau bertanya.  Kujawab dengan anggukan, kaget aku mak. Kau langsung menaruh benda itu di atas tanganku. Tumpukan buku yang menandakan siapa dirimu. Sementara kau berusaha menggeledah isi tasmu sampai kau yakin semua sudah sesuai semestinya.


Selebihnya kita sibuk dengan urusan masing masing. Sampai setengah jalan lepas Lubuk Alung, aku baru sadar kau memegang buku yang juga sedang ku baca. Buku itu tersimpan dalam tasku. Dengan nada sok santai menahan gugup, ku beranikan diri membuka percakapan kita. Tentu dengan buku itu sebagai katalisnya.

Lalu kita mengalir dalam pembahasan mengoreksi buku tersebut. Aku menyimak kau bertutur sambil sesekali melirik wajahmu, tentu tanpa seijinmu. Kita bercakap tanpa saling perkenalkan diri, dan itu berlanjut sampai kita berpisah.

Kau sangat menarik. Kau tidak menutup diri karena pakaianmu. Kau mudah bergaul dengan bahasamu yang halus dan budi pekerti yang dibangun dengan pondasi agama yang kuat tentunya.

Kemudian waktu mengambil peranannya. Tiba-tiba aku membenci Einstein dengan Hukum Relativitasnya. Satu setengah jam yang biasanya lama kini terasa amat pendek. Aku harus turun di kotaku, sementara kau tak ada tanda akan ikut turun. Dengan nada malas aku menyetop bus kita (maaf kalau aku menggunakan kata kita), dan permisi sambil memberikan sedikit senyuman terbaikku.

Gravitasi menarikku lebih kuat. Aku seperti kena kutukan "imprint" yang tak rela meninggalkanmu. Si sopir sampai berteriak padaku, dan dengan tenaga tersisa aku berhasil keluar bus kita. Sementara aku menutup pintu, ku sempatkan melirikmu sekali lagi dan disana kau melakukan hal yang sama. Kau memberikan senyuman terbaikmu padaku. Kau pun mulai hilang dari pandangan. Bus itu bukan lagi bus kita.


Aku butuh waktu tambahan untuk mengembalikan energiku yang tersedot padamu. Ku tersenyum malu ketika membayangkan kembali saat kau pertama menyapaku di bus kita. 

Saat kau meminta untuk memegangkan bukumu. Saat kau sibuk dengan tasmu, aku menemukan suatu yang kubutuhkan. Goresan nama dalam bukumu itu kuyakin adalah namamu. Aku akan menyebutnya dalam doaku, menjadikan kau bagian istiqarah cintaku. Sampai kita bertemu lagi dengan cara yang berbeda. Cara yang aku yakin akan digariskan Tuhan untuk kita. Sampai itu terwujud, "Assalammualaikum Cinta" akan kujaga untuk pertemuan halal kita. ##