Selasa, 27 November 2018

     Assalammualaikum Cinta

Terik matahari masih setia menemani Kota Padang. Di tengah panasnya cuaca, aku terjebak dalam bus yang akan menuju kotaku yang sejuk, Padang Panjang. Sopir bus masih menunggu tambahan penumpang. Panas ini sudah membuatku hampir mimisan. Aah, aku masih saja tak suka Kota Padang.

Masih ada dua bangku kosong. Satunya bangku di sebelahku. Seorang ibu datang dengan keringat yang membanjiri bajunya. Dia duduk di bangku yang lain. Bangku di sebelahku masih kosong.

Si sopir menghidupkan bus dan turun lagi. Dia membiarkan mesin menyala. Entah untuk memanaskan mesin atau hanya memberi harapan pada para penumpang yang sudah kegerahan dan emosi karena tidak kunjung berangkat. Kami masih menunggu satu penumpang yang menguji kesabaran.

Lalu disitulah kau datang, memberikan kelegaan untuk semua orang. Aku terpaku diam. Bangku yang tersisa hanya di sebelahku. Artinya kau tidak bisa menolak untuk bersebelahan denganku. Seribu ucap dalam hati, bertasbih, berdoa meminta perlindungan Illahi agar aku tidak tergoda memandang wajahmu.


Walau kau dibalut pakaian serba tertutup, wajahmu tetap terbuka sehingga bebas kupandangi. Tapi itulah yang membuatku jadi tak karuan. Kau telah menghipnotis lelaki yang malang ini.

Sopir akhirnya menjalankan bus yang kunaiki, yang kau naiki, atau lebih tepatnya yang kita naiki. Gerah dan emosi penumpang pun perlahan menghilang. Tinggal aku yang masih panas dengan emosi yang lain.

"Bang, keberatan tidak memegang ini sebentar?" kau bertanya.  Kujawab dengan anggukan, kaget aku mak. Kau langsung menaruh benda itu di atas tanganku. Tumpukan buku yang menandakan siapa dirimu. Sementara kau berusaha menggeledah isi tasmu sampai kau yakin semua sudah sesuai semestinya.


Selebihnya kita sibuk dengan urusan masing masing. Sampai setengah jalan lepas Lubuk Alung, aku baru sadar kau memegang buku yang juga sedang ku baca. Buku itu tersimpan dalam tasku. Dengan nada sok santai menahan gugup, ku beranikan diri membuka percakapan kita. Tentu dengan buku itu sebagai katalisnya.

Lalu kita mengalir dalam pembahasan mengoreksi buku tersebut. Aku menyimak kau bertutur sambil sesekali melirik wajahmu, tentu tanpa seijinmu. Kita bercakap tanpa saling perkenalkan diri, dan itu berlanjut sampai kita berpisah.

Kau sangat menarik. Kau tidak menutup diri karena pakaianmu. Kau mudah bergaul dengan bahasamu yang halus dan budi pekerti yang dibangun dengan pondasi agama yang kuat tentunya.

Kemudian waktu mengambil peranannya. Tiba-tiba aku membenci Einstein dengan Hukum Relativitasnya. Satu setengah jam yang biasanya lama kini terasa amat pendek. Aku harus turun di kotaku, sementara kau tak ada tanda akan ikut turun. Dengan nada malas aku menyetop bus kita (maaf kalau aku menggunakan kata kita), dan permisi sambil memberikan sedikit senyuman terbaikku.

Gravitasi menarikku lebih kuat. Aku seperti kena kutukan "imprint" yang tak rela meninggalkanmu. Si sopir sampai berteriak padaku, dan dengan tenaga tersisa aku berhasil keluar bus kita. Sementara aku menutup pintu, ku sempatkan melirikmu sekali lagi dan disana kau melakukan hal yang sama. Kau memberikan senyuman terbaikmu padaku. Kau pun mulai hilang dari pandangan. Bus itu bukan lagi bus kita.


Aku butuh waktu tambahan untuk mengembalikan energiku yang tersedot padamu. Ku tersenyum malu ketika membayangkan kembali saat kau pertama menyapaku di bus kita. 

Saat kau meminta untuk memegangkan bukumu. Saat kau sibuk dengan tasmu, aku menemukan suatu yang kubutuhkan. Goresan nama dalam bukumu itu kuyakin adalah namamu. Aku akan menyebutnya dalam doaku, menjadikan kau bagian istiqarah cintaku. Sampai kita bertemu lagi dengan cara yang berbeda. Cara yang aku yakin akan digariskan Tuhan untuk kita. Sampai itu terwujud, "Assalammualaikum Cinta" akan kujaga untuk pertemuan halal kita. ##