Senin, 24 Desember 2018, setelah tak tentu arah mengelilingi Gunung Marapi dari Padang Panjang-Batusangkar-Baso hingga Bukittinggi, perjalanan dilanjutkan kelereng Singgalang. Sebuah tempat yang baru digarap untuk pariwisata yang bakal menjadi primadona di daerah Agam.
Sekitar pukul setengah enam sore kami baru sampai di daerah Pakan Sinayan dan masuk simpang, jalan menanjak adalah rute yang harus kami lewati nemenbus perkampungan dan ladang yang terasa asri. Dingin hawa dari pinggangan gunung Singgalang setia membelai, mengelitik tubuh yang mulai kedinginan.
Sampai dikampung terakhir, kami meminta ijin untuk menitip motor disalah satu rumah warga dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kami harus melewati jalan menanjak, butuh usaha yang lumayan keras untuk sampai di tujuan. Apalagi kami bukanlah tipe yang giat berolahraga.
Jingga menyapa di ujung senja, langit menampakkan keindahan spectrum orange bercampur warna nila takkala kami sampai ditujuan yang memanjakan mata. Lantungan suara adzan maghrib saling sahut menyahut terdengar dari satu mesjid kemesjid lainnya.
Setelah istirahat sejenak, dengan ditemani kopi panas dan gorengan yang kami bawa dari bawah, tubuh kembali melupakan lelah, lelah yang terbayarkan oleh pemandangan didepan yang sangat memanjakan mata.
Ada satu ritual yang takkan dilupakan tatkala menemukan tempat yang kece menurut era milineal sekarang, yaitu ritual ber-photo. Bukittinggi dan daerah sekitarnya mulai menampakkan keindahan dari jutaan sinar lampu seiring malam yang semakin gelap .
Malam semakin pekat, cahaya lampu dari kota bukittinggi dibawah kami semakin memanjakan mata, membuat betah berlama lama walau dingin semakin membekukan. Dengan memanfaatkan kamera Smartphone dan harus dibantu pencahayan sana sini, satu persatu photo terekam dalam bingkai yang diharapkan.
"Tok tok tok", ada bunyi seperti orang sedang memukul besi disalah satu sudut didekat mushala yang belum selesai dibangun. Nyali mulai ciut, tapi aksi jepret-jepret masih berlanjut seakan hal tersebut bukanlah apa-apa.
"Tok tok tok", terdengar bunyi yang sama untuk kedua kalinya, tapi yang ini terdengar lebih keras dari yang pertama. Bulu remang ditubuh mulai berdiri tak terkendali.
Kami memutuskan menyudahi ber-photo dan segera mengemasi barang-barang kami. "Tinggalkan saja sedikit kopi disini," salah satu kawan berkata sambil menunjuk botol berkas yang sudah ada disana. “Sala (sala lauak) tinggal juga beberapa" imbuh yang lain.
Mendengar kedua orang kawan tadi berkata begitu, nyaliku dan yang lainnya tambah ciut. Kami mengemasi barang semakin cepat. Padahal kami belum puas memandangi keindahan yang terhampar didepan kami..
Bak lomba lari, kami berusaha adu cepat untuk saling mendahului satu sama lain Gonggongan anjing terdengar dari arah perkampungan semakin membuat dada semakin berdebar. Langkah kakipun semakin cepat. Mendekati kampung hawa mistis semakin tertinggal di belakang kami dan jantung sudah mulai berdetak normal
Setelah permisi dan berterima kasih pada penduduk tempat kami nitip motor. Kami langsung menggas motor dan segera meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan jejak mistis dibelakang kami.
Sesampainya di Guguak Randah, dirumah salah satu kawan, perasaan lega mulai membanjiri pembuluh darah kami. Seakan kami terbebas dari satu hal diluar nalar. Namun kisah ini tidak hanya menjadi sejarah yang dilupakan dan menjadi topik yang kami pembicangan sepanjang sisa malam hingga kami terlelap dalam tidur.
Salah seorang teman yang memiliki kepekaan lebih akan keberadaan hawa mistis berkata "Seperti inyiak, dan hawa keberadaanya sebenarnya sudah mulai terasa saat kita sampai disana” tuturnya sambil meraih minum sebelum melanjutkan ceritanya “sejak awal saya sudah mendengar samar langkah langkah kaki berat namun saya acuhkan”.
‘Inyiak’ adalah sebutan untuk harimau mistis, dipercaya beberapa orang yang dahulunya belajar suatu ilmu tertentu keika wafat akan menjelma menjadi sesosok harimau, ada juga ‘inyiak’ yang dipelihara sebagai penjaga. Terlepas dari benar atau tidaknya, satu hal yang jelas. Ada bagian dunia yang berbeda satu sama lain dibumi ini, ada makhluk ghaib yang tak kasat mata, dunia jin. Kita menempati satu bumi yang sama walau kita manusia tak punya kemampuan melihat dunia mereka. Namun terkadang jin ini menunjukkan eksistensinya, apa karna merasa terganggu dengan keberadaan manusia atau emang karena tugas mereka adalah menganggu manusia. Sehingga terkadang mereka menunjukkan keberadaanya.
