Senin, 28 Agustus 2017

Melihat lebih dekat keindahan pinggiran singkarak

Kali ini saya akan membahas sekilas mengenai tempat wisata yang sudah terkenal di Sumatera Barat, Indonesia. Tempat wisata yang juga menjadi kebanggaan urang awak, Singkarak-sebuah danau tektonik yang terletak didua kabupaten di Sumatera Barat. 

Terletak memanjang dari kabupaten Tanah Datar hingga kabupaten Solok, danau singkarak berada dijalur lalu lintas dikedua kabupaten ini. Sehingga bisa dinikmati oleh pengendara yang melalui jalur ini.

Riak riak danau memanggil para pengendara untuk beristirahat sejenak melepas penat setelah berkendara jauh, pinggiran danau singkarak menyajikan pemandangan yang luar biasa terlebih saat cuaca bagus dan saat matahari hampir tenggelam, singkarak bakal memanjakan mata dengan deburan ombak kecil yang menampar lembut pantai danau ini.
Melihat nelayan yang mendayung sampannya membuat irama alam dan manusia begitu harmonis, bagaimana alam begitu berjasa bagi kelangsungan hidup manusia.

Bisingnya lalu lintas tak akan menghambat dan mengurangi keindahan danau satu ini, danau terbesar di daerah Sumbar ini adalah Bukti bahwa Tuhan sangat menganugrahi tanah ini dengan sempurna.

Minggu, 27 Agustus 2017

Mahek--- Negeri Impian yang entah kapan dijejaki

Mendengar Kata mahek saya kembali memutar kenangan tahun 2011. Saat itu seorang senior menyebutkan bahwa ada sebuah daerah di Lima puluh koto sana yang masih sangat terisolir, bayangkan saja Mobil hanya sekali seminggu saja. Penasaran saya langsung bertanya pada mbah yang jarang bikin kecewa, mbah Google namanya. Benar saja saya mendapatkan informasi yang lebih dari perkiraan saya.

Dari mbah Google saya mendapatkan pengetahuan yang baru tentang mahek khususnya dan Sumbar umumnya. Dari awal saya berpendapat bahwa pariangan lah desa pertama di wilayah sumbar, tapi terbantahkan dengan hadirnya mahek dalam kancah pikiran saya.
Mahek memendam saksi sejarah tentang kampuang tertua di sumbar. Adanya peninggalan menhir adalah saksinya, sebuah situs megalitik dari masa lampau. Dan dari mbah Google saya juga mendapat tambahan ilmu bahwa setiap menhir mengarah kepada gunung sago, sebuah lambang bahwa masyarakat zaman itu menghormati gunung sago sebagai tempat bersemayamnya nenek moyang. Begitu pentingnya gunung sago oleh mereka saat itu.
Membaca satu demi satu artikel, menambah keinginan saya untuk bisa menapaki kaki di tanah tersebut, tapi sampai saat ini bagian dari wilayah Lima puluh koto tersebut hanya menjadi impian yang tercapai, situs megalitik masih ada dalam angan angan yang jauh panggang dari apai. Hehe.
Hope one day....
My hope never die....