ASSALAMU'ALAIKUM CINTA2
Dan
setiap yang berawal pasti punya akhir, setiap pertemuan bakal punya
perpisahan.
Paling tidak terpisah oleh maut. Manusia punya hak untuk merencanakan dengan siapa
dia berjodoh, memilih kriteria
pasangan ideal yang diinginkan. Namun bukankah takdir manusia sudah ditentukan,
tertulis dalam kitab yang nyata - lauh mahfuzh.
BAGAIMANA
KALAU TAKDIR LEBIH MENJODOHKAN DENGAN KEMATIAN?
***
Hujan mengguyur Padang Panjang dengan lebatnya, sebuah kota kecil yang lebih
sering turun hujan dibandingkan tempat lain di Sumatera Barat. Di sebuah kedai di dekat
lampu merah Silaing aku berteduh, menunggu hujan reda sekaligus
menunggu bus yang bakal mengantarku ke kota Padang. Kota yang kubenci
sebenarnya. Bagaimanapun aku tak menyukai cuaca panas.
Hampir
dua jam hujan turun,
hampir sama lamanya aku menunggu bus datang. Beberapa bus sebenarnya tadi lewat
tapi aku urungkan untuk menaikinya,
lebih
baik menungu daripada aku harus basah kuyup.
Aku
menyetop bus yang bakal mengantarku ke kota Padang. Mengulang aktivitas yang hampir
setahun ini aku lakukan,
untuk
mencari
momentum agar bisa bertemu denganmu lagi. Menaruh penuh harap bus kita tak hanya
sekedar mempertemukan tapi mempersatukan, Aamiin.
Bus
yang aku hentikan adalah bus dari Payakumbuh, tertera di depannya rute tujuan
dari bus itu. Untungnya tinggal di kota
ini adalah aku berhak memilih dan menaiki bus mana saja sesukaku. Aku bebas
menaiki bus
dari arah Bukittinggi, Payakumbuh ataupun
Batusangkar. Dengan satu syarat
bersabar kalau bus penuh, harus menunggu bus lainnya.
Hatiku
berdesir, ada perasaan yang menyeruak bahagia. Perasaan yang datang kala tangan
ini meraih gagang pintu. Semoga ini menjadi pertanda baik dari pencarianku.
Bus
tidak begitu ramai,
hanya ada beberapa penumpang. Aku
merasakan kekecewaan, tidak ada tanda-tanda bahwa kau berada di bus ini,
‘bus kita’ hanya menjadi angan
angan.
Aku
memilih duduk di bangku
tunggal di sebelah
bangku ganda yang diduduki seorang pria dan seorang wanita bercadar, menunduk membaca mushaf
kecil di tangannya.
Perasaan kecewa ini membuatku ingin turun dari bus, tapi sialnya hujan kembali turun
dengan sangat lebat. Sehingga aku memilih tetap dalam bus sambil mengeluarkan
novel yang selalu aku bawa kemana mana. Novel yang dahulu menjadi katalis dalam
pembicangan aku dan dia.
Novel yang menjadi favoritku sepanjang masa. It's becouse of you.
Aku
tenggelam dalam kisah cinta dan pengkhianatan, Cinta pria yang meminang gadis
lewat proses ta'aruf. Menawarkan cinta yang begitu murni, tapi harus dikhianati wanita
yang memilih pria lain.
Pria
yang duduk di sebelahku menepuk pundakku dengan pelan. Aku menoleh mencari tau apa yang di
harapkannya dariku, karena jelas saat melihatnya tadi aku tak mengenalnya.
" السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Maaf menganggu bang, ada yang mau bicara sama abang," kata pria tersebut sambil menunjuk wanita bercadar disebelahnya.
Maaf menganggu bang, ada yang mau bicara sama abang," kata pria tersebut sambil menunjuk wanita bercadar disebelahnya.
" السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ bang" wanita bercadar itu berkata dengan nada tertahan namun sopan, ada nada
malu dalam suaranya yang berusaha dia samarkan.
Namun
yang menjadi fokusku adalah bukan mengenai
nada malu dari si wanita.
Seperti suara yang sangat familiar. Aku mengingat semua informasi tentangnya
dengan baik. Suaranya, cara dia
berbicara,
namanya dan terutama wajahnya. Atau aku hanya seorang yang mengalami kerinduan
sehingga harapan membawaku pada khayalan yang salah.
" وَعَلَيْكُمْ لسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ " aku membalas sapaannya dengan sesopan mungkin.
"Ada
yang bisa saya bantu uni?".
Wanita
bercadar itu menatap novel yang sedang kupegang "Apa uni penasaran dengan
novel ini?" Aku menanyakankan padanya yang masih melihat ke buku yang kupegang
"atau uni mau membacanya".
"Oh
bukan begitu. Aku lebih penasaran dengan orang yang memegang buku
tersebut," balas dia dengan sopan.
"Dengan
saya uni? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Aku
berusaha mengingat apakah pernah bertemu wanita bercadar ini di suatu tempat,
tapi aku tak
mampu mengingatnya.
"Aku
cukup yakin, sekitar setahun lalu pernah bertemu dengan pemuda yang cara
bicaranya adalah pemuda yang baik budinya, sopan dan santun. Yang waktu itu dia mau
aku susahkan untuk memegang tumpukankan bukuku dan saling berbagi pikiran membahas novel yang sedang abang baca itu."
MasyaAllah,
pencarianku akhirnya membuahkan hasil. Akhirnya titik dimana takdir mempertemukan
kita untuk kedua kalinya menjadi hal yang sangat istimewa. Hanya saja kenapa
tidak dari awal naik bus ini aku sadar bahwa dia nyata.
Aku
merasa sangat bersyukur novel ini
membawa kenikmatan yang begitu indah, membuatku semakin menyukai novel ini lebih dari sebelumnya.
"Waaah,
Sepertinya takdir mempertemukan uni dengan pemuda yang baik budinya itu
kembali," aku membalas ucapannya penuh kemenangan. Dan berharap takdir
lebih berpihak padaku kali ini. Aku ingin mengusir pria yang disebelahnya, atau agar
tidak begitu kasar meminta pindah kursi. Tapi ada perasaan yang menahanku untuk
melakukannya.
Perasaan
senang menyelimutiku, hatiku berdebar kencang. Nadi nadi mengalirkan darah yang
membara. Aku begitu hidup, seperti bunga yang kembali mekar setelah sempat
nyaris layu.
"Sepertinya
novel yang abang pegang itu adalah cara Tuhan mempertemukan kita untuk kedua
kalinya, dan takdir Tuhan juga bahwa kita bertemu dalam bus lagi."
Aku
sangat menyetujui kalimat yang dipakainya.
Namun ada yang kurang, bagiku novel ini adalah katalis yang mempercepat
pembincangan kami atau kalau boleh aku berharap bakal menjadi katalis dalam
hubungan kami.
"Tapi
tidakkah abang bosan dengan novel itu?"
Aku
tersenyum, memberikan senyum terbaikku, seperti senyuman yang pernah aku berikan padanya dulu.
"Oh
iya, ini adalah suami saya. Perkenalkan bang." Dia menunjuk
kearah pria di sebelahnya.
Bagai
petir yang datang menyambar dengan cepat, senyumku tiba tiba hilang mendengar
kata suami. Aku menoleh pada pria yang dipanggilnya sebagai suami. Seorang pria
yang sangat cocok dengannya, gagah dan lebih penting memiliki pemahaman agama
yang kuat. Terlihat dari perawakan dan pakaian yang dia kenakan.
Aku
berusaha mengangkat tangan untuk menjabat tangan pria yang memiliki hak atas
dirinya. Memperkenalkan diri seramah mungkin yang bisa aku lakukan.
Dalam
imajinasi liarku, saat menjabat tangan suaminya. Aku memikirkan berbagai cara
untuk melenyapkan si Pria. Otatku bekerja cepat menvisualkan berbagai cara yang bisa
ku lakukan.
Dari suatu yang
rasional menggunakan
tangan alias jotos
atau alat seperti kayu atau sejenisnya, ada juga cara irrasional seperti
menggunakan kutukan Avadra
Kadavranya Harry Potter.
Adegan
demi adegan tersebut untungnya tertahan, aku berusaha beristiqfar sehingga mencegahku menjadi sosok yang hina.
Bukankah menyakiti sesama muslim sama saja menyakiti seluruh umat muslim di
dunia.
Setelah
perkenalan basa basi itu, aku kembali duduk keposisi semula, menghadap ke depan, berusaha
menyembunyikan perasaan kecewa, marah,
dan sedih. Tak ada minat untuk meneruskan pembincangan.
Aku kembali membenci Hukum Relativitas Einstein. Kenapa waktu terasa begitu lama. Aku ingin segera
sampai dan meninggalkan mereka dalam dukaku.
Terkadang takdir punya caranya sendiri,
Bukan mempermainkan yang sering salah duga,
Karena mungkin Allah hanya bermaksud
mempertemukan,
Tapi bukan untuk dipersatukan,
Walau sekuat apapun mencoba menjadi satu,
Tetap saja takdir berkata lain.
Air
mataku mulai mencuat di ujung mataku, lamunan membawaku pada ketidaksadaran.
Sehingga tak sengaja mengutip kata kata dalam novel yang pernah jadi favoritku.
Setidaknya sampai beberapa menit lalu.
Aku
berusaha mengusap air mata dengan diam, berusaha untuk tidak menarik
perhatian dua penumpang
di sebelahku.
"Bukunya
jatuh bang," suaminya menepuk pundakku dan menunjuk ke arah novel yang
tergelatak di lantai bus.
"Oh
iya, terima kasih bang," aku membalas dengan senyum yang dipaksakan sambil
mengambil novelku dengan malas. Aku sudah tidak mempedulikan novel itu, sudah
bukan menjadi favoritku.
Aku
menoleh sebentar padanya ketika memungut novelku, dan yang membuatku terkejut
dia sedang melihat kearahku, mata kami saling bertemu sebentar. Kemudian aku
kembali ke posisi semula.
Ada
tanya dalam matanya, apa aku terlalu keras membaca kutipan novel tadi. Aku tau
dia mengetahui kutipan tersebut yang kuambil dari novel yang sedang kupegang
ini. Dan apa dia sempat lihat ada air mata sebelum aku
berusaha menghapusnya.
Aku
muak dalam kondisi ini, muak dengan takdir ini. Muak dengan hubungan mereka.
Muak dengan
suaminya yang menjadi jurang antara aku dengan dia. Aku muak dengan hari ini
yang mempertemukan kami, berharap ini tak pernah terjadi dan pencarianku masih berlanjut
sampai kapanpun.
‘Bang kiri bang,’ Aku
menyetop bus, tak tahan harus berada lebih lama lagi dalam kondisi ini. Membiarkan bus
ini menjadi bus mereka.
"Aku
turun duluan bang dan uni,"
"Bukannya
bang mau ke Padang,
ini baru sampai
Lubuk Alung?" Suaminya bertanya basa basi.
Aku
memaksakan senyum "Saya baru ingat ada yang tertinggal yang harus saya jemput bang."
"Mari
bang." Aku menganggut minta pamit padanya dan melirik si wanita untuk terakhir kalinya.
Namun dia sudah membaca mushafnya kembali.
Lubuk
Alung membara. Kombinasi yang kejam antara terik matahari dan hatiku yang
memanas. Untungnya aku turun tepat di depan halte, sehingga aku bisa berteduh
sebentar.
Aku
duduk sambil membolak balik halaman halaman novel yang kupegang, tanpa
bermaksud membacanya. Kenapa novel ini sudah tak menarik lagi?
KARENA
DIA SUDAH TAK BISA KURAIH LAGI, batinku.
Entah sudah berapa bus yang kulewatkan, tangan ini masih membolak balik
halaman novel. Hingga aku berhenti di bagian aku mengutip kata kata yang tak
sengaja aku baca dalam bus tadi.
Aku
membayangkan sitokoh utama dalam novel, Pria yang harus menelan pahit karena
harus di tinggalkan wanita yang bakal dinikahinya seminggu sebelum akad. Proses ta'aruf yang
dia lalui ternyata membuat si wanita merasa terpaksa dan harus melarikan diri
dengan laki laki lain yang dia pilih.
Menyakitkan - Mungkin itu yang
dirasakan pria tersebut, seperti keadaanku saat ini yang merasa sakit. Namun
daripada menahan sakit hati dan berduka, pria tersebut lebih memilih
mengikhlaskan. Berpikir bahwa dia bukan yang terbaik bagi wanita, bahwa wanita
tersebut tak cukup baik baginya. Sesuatu yang tak bisa aku lakukan, ternyata
mengikhlaskan jauh lebih sulit.
Aku kembali membaca bagian dimana
Pria mengikhlaskan wanita ketika dia mengutarakan isi hatinya pada ustaz yang
berperan dalam proses ta'arufnya.
Terkadang takdir punya caranya sendiri,
Bukan mempermainkan yang sering salah
duga,
Karena mungkin Allah hanya bermaksud
mempertemukan,
Tapi bukan untuk dipersatukan,
Walau sekuat apapun mencoba menjadi satu,
Tetap saja takdir berkata lain.
Manusia hanya dapat memilih maksud dan
tujuan,
Namun Allah-lah yang menentukan.
Kalau silahturahmi memperpanjang usia,
Mungkin pertemuan dimaksudkan untuk suatu yang
beda,
Walau hati manusia punya asa,
Ada saja pihak yang bahagia sementara pihak
lain harus terluka.
Namun...
Allah tak menyia nyia,
Bisa saja yang terbaik sedang menanti,
Menunggu takdir menentukan kata pasti,
Sementara yang pergi akan terganti.
Aku
menutup novel tersebut, mencoba memahami si tokoh utama dalam
mengikhlaskan. Bagaimanapun aku mencoba memahami, tetap saja ikhlas itu tak
kunjung datang.
Bagiku,
Semua terjadi pada suatu titik, yang disebut sebagai momentum. Titik dimana aku
bertemu dengan dia. Titik dimana harapan muncul, titik dimana aku berusaha
mencarinya.
Sekarang
aku harus menemui titik dimana harus berpisah, melupakannya. Karena adanya
jurang yang tak mungkin aku lalui. Kalau aku memaksa menempuh jurang tersebut
dan bukan berarti
tak mungkin. Hanya saja aku tak mau mengedepankan egoku, akan ada yang harus
disakiti. Apakah itu aku sendiri, atau dia dan bahkan mungkin suaminya. Dan mungkin bakal menyakiti kami sekaligus.
Aku
kehilangan harapan, takdir ini begitu kejam. Cinta ini harus berakhir saat
kuncupnya menunggu mekar. Titik dimana momentum pertemuan yang seharusnya menjadi Assalamu'alaikum Cinta, harus berganti dengan duka.
Aku lupa
berapa lama waktu yang kuhabiskan di Halte itu. Terik matahari sudah
beranjak dari langit menyisakan riak
awan jingga menjelang senja. Dengan usaha yang dipaksakan aku beranjak ke
seberang jalan untuk bus yang bakal membawaku kekampung halamanku. Berharap dinginnya
kota Padang Panjang bisa mengurangi panasnya hatiku yang membara oleh amarah
dan kecewa. Meninggalkan novel yang selalu menemaniku tergeletak bersama kenangan di belakangku. Aku tak bermaksud kembali ke Padang, bahkan padang yang dari awal
aku benci semakin kubenci. Aku ingin pulang. Merenung dalam dekap kamarku yang
sunyi.
"Ma,
aku ingin pulang," aku mengirim pesan pada ibuku dengan perasaan yang begitu ingin dekapan seseorang. Mungkin dekapan ibu adalah cara teraman untuk mencurahkan
segala keluh kesah.
Dan garis
takdirku pun harus diputuskan detik itu. Bersama dengan bus ugal ugalan, menerjang
tubuhku seketika. Senja jingga itu semakin merekah bersama darah yang mengalir
dari sekujur tubuhku, kegelapan menarikku semakin dalam. Dalam dan semakin
dalam.
AKUPUN TAK
PERNAH KEMBALI.


