Minggu, 28 Juli 2019

 ASSALAMU'ALAIKUM CINTA2


Dan setiap yang berawal pasti punya akhir, setiap pertemuan bakal punya perpisahan. Paling tidak terpisah oleh maut. Manusia punya hak untuk merencanakan dengan siapa dia berjodoh, memilih kriteria pasangan ideal yang diinginkan. Namun bukankah takdir manusia sudah ditentukan, tertulis dalam kitab yang nyata - lauh mahfuzh. 

BAGAIMANA KALAU TAKDIR LEBIH MENJODOHKAN DENGAN KEMATIAN?

***

Hujan mengguyur Padang Panjang dengan lebatnya, sebuah kota kecil yang lebih sering turun hujan dibandingkan tempat lain di Sumatera Barat. Di sebuah kedai di dekat lampu merah Silaing  aku berteduh, menunggu hujan reda sekaligus menunggu bus yang bakal mengantarku ke kota Padang. Kota yang kubenci sebenarnya. Bagaimanapun aku tak menyukai cuaca panas.

Hampir dua jam hujan turun, hampir sama lamanya aku menunggu bus datang. Beberapa bus sebenarnya tadi lewat tapi aku urungkan untuk menaikinya, lebih baik menungu daripada aku harus basah kuyup.


Aku menyetop bus yang bakal mengantarku ke kota Padang. Mengulang aktivitas yang hampir setahun ini aku lakukan, untuk mencari momentum agar bisa bertemu denganmu lagi. Menaruh penuh harap bus kita tak hanya sekedar mempertemukan tapi mempersatukan, Aamiin.


Bus yang aku hentikan adalah bus dari Payakumbuh, tertera di depannya rute tujuan dari bus itu. Untungnya tinggal di kota ini adalah aku berhak memilih dan menaiki bus mana saja sesukaku. Aku bebas menaiki bus dari arah Bukittinggi, Payakumbuh ataupun Batusangkar. Dengan satu syarat bersabar kalau bus penuh, harus menunggu bus lainnya. 

Hatiku berdesir, ada perasaan yang menyeruak bahagia. Perasaan yang datang kala tangan ini meraih gagang pintu. Semoga ini menjadi pertanda baik dari pencarianku.

Bus tidak begitu ramai, hanya ada beberapa penumpang. Aku  merasakan kekecewaan, tidak ada tanda-tanda bahwa kau berada di bus ini, bus kita hanya menjadi angan angan.

Aku memilih duduk di bangku tunggal di sebelah bangku ganda yang diduduki seorang pria dan seorang wanita bercadar, menunduk membaca mushaf kecil di tangannya.

Perasaan kecewa ini membuatku ingin turun dari bus, tapi sialnya hujan kembali turun dengan sangat lebat. Sehingga aku memilih tetap dalam bus sambil mengeluarkan novel yang selalu aku bawa kemana mana. Novel yang dahulu menjadi katalis dalam pembicangan aku dan dia. Novel yang menjadi favoritku sepanjang masa. It's becouse of you.

Aku tenggelam dalam kisah cinta dan pengkhianatan, Cinta pria yang meminang gadis lewat proses ta'aruf. Menawarkan cinta yang begitu murni, tapi harus dikhianati wanita yang memilih pria lain.

Pria yang duduk di sebelahku menepuk pundakku dengan pelan. Aku menoleh mencari tau apa yang di harapkannya dariku, karena jelas saat melihatnya tadi aku tak mengenalnya.

" السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Maaf menganggu bang, ada yang mau bicara sama abang," kata pria tersebut sambil menunjuk wanita bercadar disebelahnya.

" السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ bang" wanita bercadar itu berkata dengan nada tertahan namun sopan, ada nada malu dalam suaranya yang berusaha dia samarkan.

Namun yang menjadi fokusku adalah bukan mengenai nada malu dari si wanita. Seperti suara yang sangat familiar. Aku mengingat semua informasi tentangnya dengan baik. Suaranya, cara dia berbicara, namanya dan terutama wajahnya. Atau aku hanya seorang yang mengalami kerinduan sehingga harapan membawaku pada khayalan yang salah.

" وَعَلَيْكُمْ لسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ " aku membalas sapaannya dengan sesopan mungkin.
"Ada yang bisa saya bantu uni?".

Wanita bercadar itu menatap novel yang sedang kupegang "Apa uni penasaran dengan novel ini?" Aku menanyakankan padanya yang masih melihat ke buku yang kupegang "atau uni mau membacanya".

"Oh bukan begitu. Aku lebih penasaran dengan orang yang memegang buku tersebut," balas dia dengan sopan.

"Dengan saya uni? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Aku berusaha mengingat apakah pernah bertemu wanita bercadar ini di suatu tempat, tapi aku tak mampu mengingatnya.

"Aku cukup yakin, sekitar setahun lalu pernah bertemu dengan pemuda yang cara bicaranya adalah pemuda yang baik budinya, sopan dan santun. Yang waktu itu dia mau aku susahkan untuk memegang tumpukankan bukuku dan saling berbagi pikiran membahas novel  yang sedang abang baca itu."

MasyaAllah, pencarianku akhirnya membuahkan hasil. Akhirnya titik dimana takdir mempertemukan kita untuk kedua kalinya menjadi hal yang sangat istimewa. Hanya saja kenapa tidak dari awal naik bus ini aku sadar bahwa dia nyata.

Aku merasa sangat bersyukur novel  ini membawa kenikmatan yang begitu indah, membuatku semakin menyukai novel ini lebih dari sebelumnya.

"Waaah, Sepertinya takdir mempertemukan uni dengan pemuda yang baik budinya itu kembali," aku membalas ucapannya penuh kemenangan. Dan berharap takdir lebih berpihak padaku kali ini. Aku ingin mengusir pria yang disebelahnya, atau agar tidak begitu kasar meminta pindah kursi. Tapi ada perasaan yang menahanku untuk melakukannya.

Perasaan senang menyelimutiku, hatiku berdebar kencang. Nadi nadi mengalirkan darah yang membara. Aku begitu hidup, seperti bunga yang kembali mekar setelah sempat nyaris layu.

"Sepertinya novel yang abang pegang itu adalah cara Tuhan mempertemukan kita untuk kedua kalinya, dan takdir Tuhan juga bahwa kita bertemu dalam bus lagi."

Aku sangat menyetujui kalimat yang dipakainya. Namun ada yang kurang, bagiku novel ini adalah katalis yang mempercepat pembincangan kami atau kalau boleh aku berharap bakal menjadi katalis dalam hubungan kami.

"Tapi tidakkah abang bosan dengan novel itu?"

Aku tersenyum, memberikan senyum terbaikku, seperti senyuman yang pernah aku berikan padanya dulu.

"Oh iya, ini adalah suami saya. Perkenalkan bang." Dia menunjuk kearah pria di sebelahnya.

Bagai petir yang datang menyambar dengan cepat, senyumku tiba tiba hilang mendengar kata suami. Aku menoleh pada pria yang dipanggilnya sebagai suami. Seorang pria yang sangat cocok dengannya, gagah dan lebih penting memiliki pemahaman agama yang kuat. Terlihat dari perawakan dan pakaian yang dia kenakan.

Aku berusaha mengangkat tangan untuk menjabat tangan pria yang memiliki hak atas dirinya. Memperkenalkan diri seramah mungkin yang bisa aku lakukan.

Dalam imajinasi liarku, saat menjabat tangan suaminya. Aku memikirkan berbagai cara untuk melenyapkan si Pria. Otatku bekerja cepat menvisualkan berbagai cara yang bisa ku lakukan. Dari suatu yang rasional menggunakan tangan alias jotos atau alat seperti kayu atau sejenisnya, ada juga cara irrasional seperti menggunakan  kutukan Avadra Kadavranya Harry Potter.

Adegan demi adegan tersebut untungnya tertahan, aku berusaha beristiqfar sehingga mencegahku menjadi sosok yang hina. Bukankah menyakiti sesama muslim sama saja menyakiti seluruh umat muslim di dunia.

Setelah perkenalan basa basi itu, aku kembali duduk keposisi semula, menghadap ke depan, berusaha menyembunyikan perasaan kecewa, marah, dan sedih. Tak ada minat untuk meneruskan pembincangan.



Aku kembali membenci Hukum Relativitas Einstein. Kenapa waktu terasa begitu lama. Aku ingin segera sampai dan meninggalkan mereka dalam dukaku.

     Terkadang takdir punya caranya sendiri, 
     Bukan mempermainkan yang sering salah         duga,
    Karena mungkin Allah hanya bermaksud mempertemukan,
    Tapi bukan untuk dipersatukan,
    Walau sekuat apapun mencoba menjadi satu,
    Tetap saja takdir berkata lain. 

Air mataku mulai mencuat di ujung mataku, lamunan membawaku pada ketidaksadaran. Sehingga tak sengaja mengutip kata kata dalam novel yang pernah jadi favoritku. Setidaknya sampai beberapa menit lalu.

Aku berusaha mengusap air mata dengan diam, berusaha untuk tidak menarik perhatian dua penumpang di sebelahku.

"Bukunya jatuh bang," suaminya menepuk pundakku dan menunjuk ke arah novel yang tergelatak di lantai bus.

"Oh iya, terima kasih bang," aku membalas dengan senyum yang dipaksakan sambil mengambil novelku dengan malas. Aku sudah tidak mempedulikan novel itu, sudah bukan menjadi favoritku.


Aku menoleh sebentar padanya ketika memungut novelku, dan yang membuatku terkejut dia sedang melihat kearahku, mata kami saling bertemu sebentar. Kemudian aku kembali ke posisi semula.

Ada tanya dalam matanya, apa aku terlalu keras membaca kutipan novel tadi. Aku tau dia mengetahui kutipan tersebut yang kuambil dari novel yang sedang kupegang ini.  Dan apa dia sempat lihat ada air mata sebelum aku berusaha menghapusnya.

Aku muak dalam kondisi ini, muak dengan takdir ini. Muak dengan hubungan mereka. Muak dengan suaminya yang menjadi jurang antara aku dengan dia. Aku muak dengan hari ini yang mempertemukan kami, berharap ini tak pernah terjadi dan pencarianku masih berlanjut sampai kapanpun.

‘Bang kiri bang,’ Aku menyetop bus, tak tahan harus berada lebih lama lagi dalam kondisi ini. Membiarkan bus ini menjadi bus mereka.

"Aku turun duluan bang dan uni,"

"Bukannya bang mau ke Padang, ini baru sampai Lubuk Alung?" Suaminya bertanya basa basi.

Aku memaksakan senyum "Saya baru ingat ada yang tertinggal yang harus saya jemput bang."

"Mari bang." Aku menganggut minta pamit padanya dan melirik si wanita untuk terakhir kalinya. Namun dia sudah membaca mushafnya kembali.

Lubuk Alung membara. Kombinasi yang kejam antara terik matahari dan hatiku yang memanas. Untungnya aku turun tepat di depan halte, sehingga aku bisa berteduh sebentar.

Aku duduk sambil membolak balik halaman halaman novel yang kupegang, tanpa bermaksud membacanya. Kenapa novel ini sudah tak menarik lagi?

KARENA DIA SUDAH TAK BISA KURAIH LAGI, batinku. 

Entah sudah berapa bus yang kulewatkan, tangan ini masih membolak balik halaman novel. Hingga aku berhenti di bagian aku mengutip kata kata yang tak sengaja aku baca dalam bus tadi.

Aku membayangkan sitokoh utama dalam novel, Pria yang harus menelan pahit karena harus di tinggalkan wanita yang bakal dinikahinya seminggu sebelum akad. Proses ta'aruf yang dia lalui ternyata membuat si wanita merasa terpaksa dan harus melarikan diri dengan laki laki lain yang dia pilih.

Menyakitkan - Mungkin itu yang dirasakan pria tersebut, seperti keadaanku saat ini yang merasa sakit. Namun daripada menahan sakit hati dan berduka, pria tersebut lebih memilih mengikhlaskan. Berpikir bahwa dia bukan yang terbaik bagi wanita, bahwa wanita tersebut tak cukup baik baginya. Sesuatu yang tak bisa aku lakukan, ternyata mengikhlaskan jauh lebih sulit.

Aku kembali membaca bagian dimana Pria mengikhlaskan wanita ketika dia mengutarakan isi hatinya pada ustaz yang berperan dalam proses ta'arufnya. 


     Terkadang takdir punya caranya sendiri, 
     Bukan mempermainkan yang sering salah duga,
    Karena mungkin Allah hanya bermaksud mempertemukan,
    Tapi bukan untuk dipersatukan,
    Walau sekuat apapun mencoba menjadi satu,
    Tetap saja takdir berkata lain.

    Manusia hanya dapat memilih maksud dan tujuan,
    Namun Allah-lah yang menentukan.

    Kalau silahturahmi memperpanjang usia,
    Mungkin pertemuan dimaksudkan untuk suatu yang beda,
    Walau hati manusia punya asa,
    Ada saja pihak yang bahagia sementara pihak lain harus terluka.

    Namun...
    Allah tak menyia nyia,
    Bisa saja yang terbaik sedang menanti,
    Menunggu takdir menentukan kata pasti,
    Sementara yang pergi akan terganti.



Aku menutup novel tersebut, mencoba memahami si tokoh utama dalam mengikhlaskan. Bagaimanapun aku mencoba memahami, tetap saja ikhlas itu tak kunjung datang.

Bagiku, Semua terjadi pada suatu titik, yang disebut sebagai momentum. Titik dimana aku bertemu dengan dia. Titik dimana harapan muncul, titik dimana aku berusaha mencarinya.

Sekarang aku harus menemui titik dimana harus berpisah, melupakannya. Karena adanya jurang yang tak mungkin aku lalui. Kalau aku memaksa menempuh jurang tersebut dan bukan berarti tak mungkin. Hanya saja aku tak mau mengedepankan egoku, akan ada yang harus disakiti. Apakah itu aku sendiri, atau dia dan bahkan mungkin suaminya. Dan mungkin bakal menyakiti kami sekaligus.

Aku kehilangan harapan, takdir ini begitu kejam. Cinta ini harus berakhir saat kuncupnya menunggu mekar. Titik dimana momentum pertemuan yang seharusnya menjadi Assalamu'alaikum Cinta, harus berganti dengan duka.

Aku lupa berapa lama waktu yang kuhabiskan di Halte itu. Terik matahari sudah beranjak  dari langit menyisakan riak awan jingga menjelang senja. Dengan usaha yang dipaksakan aku beranjak ke seberang jalan untuk bus yang bakal membawaku kekampung halamanku. Berharap dinginnya kota Padang Panjang bisa mengurangi panasnya hatiku yang membara oleh amarah dan kecewa. Meninggalkan novel yang selalu menemaniku tergeletak bersama kenangan di belakangku. Aku tak bermaksud kembali ke Padang, bahkan padang yang dari awal aku benci semakin kubenci. Aku ingin pulang. Merenung dalam dekap kamarku yang sunyi.

"Ma, aku ingin pulang," aku mengirim pesan pada ibuku dengan perasaan yang begitu ingin dekapan seseorang. Mungkin dekapan ibu adalah cara teraman untuk mencurahkan segala keluh kesah.


Dan garis takdirku pun harus diputuskan detik itu. Bersama dengan bus ugal ugalan, menerjang tubuhku seketika. Senja jingga itu semakin merekah bersama darah yang mengalir dari sekujur tubuhku, kegelapan menarikku semakin dalam. Dalam dan semakin dalam.

AKUPUN TAK PERNAH KEMBALI.

2 komentar: