Senin, 22 Juni 2020
Rabu, 17 Juni 2020
"Fajar, kita sudah terlalu jauh melangkah. Walau kita tak satu keluarga, kita satu suku di tanah yang menjunjung tradisi dan adat. Yang bearti hubungan kita takkan pernah disetujui ninik mamak dan keluarga besar kita masing masing. Dalam tradisi minangkabau hubungan kita jelas terlarang. Walau beda jorong tapi kita masihlah satu suku dalam nagari, dan kau tau bukan hanya kita yang terhinakan, kedua orang tua dan bahkan kaum kita juga akan terhina."
"Senja, kita sudah mengikat janji sejak dibangku SMA dulu. Lupakah kau dengan janji itu?"
Senja terdiam cukup lama, mana mungkin dia melupakan janji yang pernah dia dan fajar buat dahulu. Janji yang mengikat mereka untuk selalu bersama, tak perduli seberapa jauh jarak memisahkan dan berapa lama waktu tak mempertemukan. janji dalam sumpah terucap bahwa cinta mereka takkan terbagi, dan mereka berusaha menepati janji walau tak berusaha bertemu dan bicara setelah itu.
"Fajar, aku ingat akan janji itu. Walau sekian tahun tak bertemu setelah janji itu terucap, aku tetap menjaga hatiku untukmu."
"Lalu kenapa kau memutuskan janji yang kita buat dulu saat aku sudah siap memenuhi janji tersebut."
"Selama dua tahun ini, setelah menyelesaikan kuliah dan memperoleh pekerjaan. Tawaran untuk menikah silih berganti, semua aku tolak karena janjiku padamu. Sungguh fajar, sampai saat ini aku masih memegang janji tersebut. Terlebih lagi janji tersebut bukan tanpa sebab, karena dari awal aku sudah memilihmu lantaran rasa sukaku padamu."
Suasana hening dalam cafe yang sedang sepi, hanya ada mereka berdua dipojok yang jauh dari kuping pelayan. Fajar sesaat sempat senang saat senja bilang rasa suka padanya. Kesenangan sesaat sampai percakapan mereka kembali dimulai.
"Fajar, saat kau menghubungiku kembali setelah sekian lama, hatiku teramat senang," kata senja memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat. "Terlebih kau bilang bakal melamarku, hatiku membengkak saking senangnya."
"Dan itu benar yang kuinginkan, hingga kita bertemu disini dan kau menghancurkannya."
Senja menatap kebawah sambil menyeka air matanya, perempuan tercipta dengan perasan yang lebih kuat yang jarang dimengerti laki laki.
"Fajar, Jangan pikir hatiku juga tak hancur." Balas senja dengan ucapan yang berupa bisikan, nyaris tak didengar fajar.
"Waktu kau bilang ingin melamar, aku menghubungi kedua orang tuaku di kampung. Awalnya mereka senang karena kabar gembira aku telah menemukan jodohku. Tapi setelah aku memberi tau mereka kaulah orangnya, siapa dirimu. Kedua orang tuaku marah bukan main, terlebih ayahku yang bergelar datuk. Kemana wajah dia hadapkan karena keegoisanku yang menginginkanmu".
"Senja, bagaimana adat bisa memisahkan kita yang secara agama tak melarang. Kita bisa menikah disini dan kalau bisa kita hitamkan saja kampung dan adat kita."
"Kita bisa saja melakukannya, menikah secara agama tanpa adat. Tapi bagaimana pernikahan bisa terbentuk secara agama jika aku tak memiliki ijin dari wali sahku, ayahku sendiri."
Senja semakin mengalirkan air mata, sementara fajar semakin bingun dan frustasi dengan keadaan ini. Mengapa adat menghalangi hubungan mereka. Sementara agama sendiri tak melarangnya. Fajar berpikir bahwa mereka benar dalam hal ini, mereka hanya sempat membuat janji sebelum mereka sama sama tamat bangku SMA dulu, setelah itu mereka berpisah memenuhi impian masing masing.
"Fajar, mungkin inilah akhir kisah kita. Sejak awal cahaya yang membuat kuncup kisah cinta ini memang terhalang sesuatu, sehingga tak memungkinkan untuk mekar."
Fajar tak menyukai ucapan senja, bagi fajar cinta pada senja sudah mekar sejak lama. Bahkan nyaris tak berkuncup, melainkan mekar utuh menjadi bunga cinta yang menghiasi hatinya.
Fajar tak menyukai ucapan senja, bagi fajar cinta pada senja sudah mekar sejak lama. Bahkan nyaris tak berkuncup, melainkan mekar utuh menjadi bunga cinta yang menghiasi hatinya.
"Tidak, ini tidak benar. Aku sudah menjaga hatiku selama ini. Takkan kubiarkan cintaku ini kandas begitu saja. Sudah terlalu lama aku menekannya."
Senja terdiam cukup lama, sampai fajar tak sabar dengan kehening itu.
"Senja, jawab aku." Tuntut fajar yang semakin frustasi akan keheningan tersebut "Apakah janji tersebut hanya ucapkan kosong belaka, apakah tak ada cinta untukku?"
Senja merasa Fajar menuduhnya sengaja mengkhianati janji, menuduh bahwa janji tersebut tak dibangun atas nama cinta.
"Janji itu bukanlah ucapan kosong berlaka, seakan akan selamanya cintaku hanya ada untukmu," balas senja yang sudah mulai menguasai air matanya.
"Maka, kita harus berjuang demi cinta kita senja,"
Senja menggelengkan kepalanya, menolak perkataan fajar.
"Sebuah akhir tentunya memiliki awal, seperti kesepakan bahwa fajar adalah awal dan senja adalah akhirnya.
Dan beginilah, Fajar dan Senja hanya d ijinkan saling merindu, tanpa bisa bersatu. Kita sepakati saja bahwa keberadaan cinta kita lebih dari cukup, walau kita memaksakan untuk bersatu, akan ada yang tersakiti, akan ada bagian yang harus dihilangkan, entah siang atau malam. Dalam hal ini keluarga kita masing masing. " tutur senja yang memberikan pukulan berat bagi fajar.
"Kondisi terberatnya, Jika salah satu dari siang atau malam-- entah itu keluarga ataupun adat dihilangkan agar fajar dan senja bisa bersatu. Maka keberadaan kita malah MENJADI TIDAK BEARTI."
Fajar lemas tak bergerak, kata kata senja menjadi begitu tajam baginya. kata kata senja menghadirkan ingatan akan ibunya yang tinggal sendiri di kampung. Menghitamkan kampung dan adat bearti juga menyangkut ibunya dan itu sangat menyakitkan. Tapi membayangkan untuk pisah dengan senja juga sangat menyakitkan.
"Fajar, maafkan aku.
Inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Setelah sekian lama, inilah pertemuan pertama dan mungkin sekaligus menjadi pertemuan kita yang terakhir. "
Senja berjalan keluar cafe tanpa memberikan kesempatan fajar untuk bicara.
Bersambung
Langganan:
Komentar (Atom)

