Senin, 22 Juni 2020

Romansa segelas kopi, dinginnya gunung dan aku
               

"Kenapa naik gunung, nanti hilang dihutan rimba dan bla bla bla...."

Itulah kata kata ibuku ketika mengetahui aku pergi mendaki gunung kala itu.

Awalnya, gunung bagiku adalah tempat yang bisa menenagkan diri. Sunyi dari hiruk pikuk orang yang terlalu pengen tau orang lain tapi merasa tak mampu kalau masalah membantu. Meringankan pikiran dari segudang masalah pemuda yang penuh pikiran kala itu. Malahan sempat terpikir bahwa mendaki gunung mendekatkan diri pada Tuhan, mengagumi ciptaannya. Pada kenyataannya itu hanya pembenaran diri saja, mengatakan mendekatkan diri pada Tuhan, namun ibadah jauh dari kata sempurna. Sholat ya sholat, kalau hati mau mengerjakan. Kalau sedang tak mau ya ditinggalkan, segampang itu. Ibadah ibadah lain malah tak ada, baca Quran misalnya. Pokoknya pernyataan lebih dekat sama Tuhan itu bohong belaka.

Seiring waktu, mendaki gunung semakin menjadi rutinitas. Asalkan ada yang ngajak ayok, ada uang atau tidak yang penting kita berangkat dulu. Pada akhirnya larangan dari ibuku sudah tak ada lagi, mungkin dia pun bosan memberikan nasehat yang tak pernah kuindahkan.

Mulailah tu, merangkai mimpi satu persatu. Membuat daftar gunung yang ingin didaki.

Pendakian pertama terjadi ditahun 2011, lepas ujian semester kala itu. Rutinitas perkulihan yang membosankan terbayar oleh pemandangan gunung yang sangat indah.

Seingat yang bisa saya bongkar dari memori otak yang tak memiliki kapasitas yang terlalu besar ini. Kala itu hanya membawa daypack (tas kuliah sih sebenarnya), jaket yang dipinjam dari teman saru kamar satu kosan, sepatu, sepasang baju ganti, sarung tangan dan kupluk, serta satu helai terpar yang digunakan untuk alas duduk rame rame sama kawan pendakian dan kalau hujan dijadikan pelindung dari serangan hujan. Jangan tanya apa itu nyaman, tentu saja tidak. Hujan bisa diakali, namun dingin adalah cerita lain. Menjerat jiwa.

Yah, ceritanya sangat menyenangkan seklaigus penuh duka. Dibalik keindahan ada pengorbanan yang harus dihadapi toh.


Oh, tak ada kompor, nasting atau apalah yang ngetren saat ini. Untuk bekal ya bawa nasi bungkus dari bawah dan snack yang dibawa ditas masing masing. Sementara itu untuk masak air bawa periuk kecil yang nantinya diusahakan sebisanya agar kopi bisa mengepul. Diatas gunung itu kopi menjadi hal yang wajib.

Dan zaman akhirnya berubah. Gunung yang dijauhi, karena bukan tempat yang nyaman untuk berkumpul dan melakukan wisata. Perlahan lahan berubah, Gunung menjadi ramai coy.

Apakah gunung masih nyaman?
Jawabannya ya tentu saja tidak senyaman dulu, apalagi pantangan pantangan yang harus dihindari dan dipatuhi kalau mendaki. Harus berganti dengan ego manusia yang butuh eksistansi diri. Gunung bukan lagi tempat yang menakutkan.

Waktupun berlalu, daftar gunung yang sudah dibuat untuk didaki pada buku catatan. Harus dijadikan makanan api karena hasrat menjadi pendaki gunung hilang, SOE HOK GIE menjadi bagian masa lalu dalam sejarah indonesia dan saya.

Singkat cerita, Pensiun tuh dari dunia pendakian yang sudah pernah mempertemukan saya dengan kenyawaman singkat antara kopi dan angan untuk mengapai atap atap negeri.

Cerita tak usai disitu saja, selama melakukan pendaki. Saya bertemu dengan orang orang yang mempunyai hobi yang sama, yaitu mendaki gunung. Ada dari mereka yang menyayangkan kenapa harus berhenti, 'itu pernah menjadi bagian hidupmu, jangan ditinggalkan begitu saja'. Tapi entah kenapa hasrat untuk segelas kopi diatas gunung dan sunrise yang perlahan keluar memanjakan mata tak semenarik itu.

Dan jawaban singkat ketika ajakan teman untuk mendaki lagi hanyalah "PENSIUN BRO" (lah, sok asyik sekali sih guy, sok ok gitu).

Bagian masa lalu adalah secuil perasaan yang pernah mengisi hari hari yang ada suka dan dukanya. Bisakah lepas dari itu semua? Jawabannya ya tidak. Tapi bagiku itu hanyalah bagian hidup yang berasal dari dimensi lain, cakeep.


Lalu istilah "PENCINTA ALAM" yang sempat aku banggakan menjadi jati diri, sekarang malah kuanggap sebagai kebodohan dan kemunafikan belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar