Assalammualaikum Cinta
Masih ada dua bangku kosong. Satunya bangku di sebelahku. Seorang ibu datang dengan keringat yang membanjiri bajunya. Dia duduk di bangku yang lain. Bangku di sebelahku masih kosong.
Si sopir menghidupkan bus dan turun lagi. Dia membiarkan mesin menyala. Entah untuk memanaskan mesin atau hanya memberi harapan pada para penumpang yang sudah kegerahan dan emosi karena tidak kunjung berangkat. Kami masih menunggu satu penumpang yang menguji kesabaran.
Lalu disitulah kau datang, memberikan kelegaan untuk semua orang. Aku terpaku diam. Bangku yang tersisa hanya di sebelahku. Artinya kau tidak bisa menolak untuk bersebelahan denganku. Seribu ucap dalam hati, bertasbih, berdoa meminta perlindungan Illahi agar aku tidak tergoda memandang wajahmu.
Sopir akhirnya menjalankan bus yang kunaiki, yang kau naiki, atau lebih tepatnya yang kita naiki. Gerah dan emosi penumpang pun perlahan menghilang. Tinggal aku yang masih panas dengan emosi yang lain.
"Bang, keberatan tidak memegang ini sebentar?" kau bertanya. Kujawab dengan anggukan, kaget aku mak. Kau langsung menaruh benda itu di atas tanganku. Tumpukan buku yang menandakan siapa dirimu. Sementara kau berusaha menggeledah isi tasmu sampai kau yakin semua sudah sesuai semestinya.
Selebihnya kita sibuk dengan urusan masing masing. Sampai setengah jalan lepas Lubuk Alung, aku baru sadar kau memegang buku yang juga sedang ku baca. Buku itu tersimpan dalam tasku. Dengan nada sok santai menahan gugup, ku beranikan diri membuka percakapan kita. Tentu dengan buku itu sebagai katalisnya.
Lalu kita mengalir dalam pembahasan mengoreksi buku tersebut. Aku menyimak kau bertutur sambil sesekali melirik wajahmu, tentu tanpa seijinmu. Kita bercakap tanpa saling perkenalkan diri, dan itu berlanjut sampai kita berpisah.
Kau sangat menarik. Kau tidak menutup diri karena pakaianmu. Kau mudah bergaul dengan bahasamu yang halus dan budi pekerti yang dibangun dengan pondasi agama yang kuat tentunya.
Kemudian waktu mengambil peranannya. Tiba-tiba aku membenci Einstein dengan Hukum Relativitasnya. Satu setengah jam yang biasanya lama kini terasa amat pendek. Aku harus turun di kotaku, sementara kau tak ada tanda akan ikut turun. Dengan nada malas aku menyetop bus kita (maaf kalau aku menggunakan kata kita), dan permisi sambil memberikan sedikit senyuman terbaikku.
Gravitasi menarikku lebih kuat. Aku seperti kena kutukan "imprint" yang tak rela meninggalkanmu. Si sopir sampai berteriak padaku, dan dengan tenaga tersisa aku berhasil keluar bus kita. Sementara aku menutup pintu, ku sempatkan melirikmu sekali lagi dan disana kau melakukan hal yang sama. Kau memberikan senyuman terbaikmu padaku. Kau pun mulai hilang dari pandangan. Bus itu bukan lagi bus kita.
Aku butuh waktu tambahan untuk mengembalikan energiku yang tersedot padamu. Ku tersenyum malu ketika membayangkan kembali saat kau pertama menyapaku di bus kita.
Saat kau meminta untuk memegangkan bukumu. Saat kau sibuk dengan tasmu, aku menemukan suatu yang kubutuhkan. Goresan nama dalam bukumu itu kuyakin adalah namamu. Aku akan menyebutnya dalam doaku, menjadikan kau bagian istiqarah cintaku. Sampai kita bertemu lagi dengan cara yang berbeda. Cara yang aku yakin akan digariskan Tuhan untuk kita. Sampai itu terwujud, "Assalammualaikum Cinta" akan kujaga untuk pertemuan halal kita. ##



Cerpen yang menarik dan menggelitik bagi ku.
BalasHapusCerpen yang menarik dan menggelitik bagi ku.
BalasHapusIseng Iseng berhadiah pak her, baraja raja pak her
HapusSemoga mpung dptkan segera ia kembali jadikan kekasih halalmu...cerpen yg indah..
BalasHapusAmiin,mokasih mpuang
Hapusuwuhuuuu.... shalalalalala
BalasHapusMakasih my editor, ini lagi gerah another cerita, nanti edit lagi ya
HapusFiksi atau nyata ko ncu??? Ancak ngaku
BalasHapusFiksi agak agak nyata, hehe
Hapusduh ngena bget bg
BalasHapusMakasih junior, hehe. Salam kenal yo, bg kimia unp 2010. Hahaaa
Hapus😀😀😀 bagus2.
BalasHapusJngan2 cuin curht y.����..tpi crtanya asyik.������
BalasHapusFiksi ini mah
HapusWahhhh luarbiasa,, saingan fiersa besari ko mah ��
BalasHapusMando berlebihan, cimeesnya gadang bana k awak
HapusMando berlebihan, cimeesnya gadang bana k awak
HapusBilo rilis sambungan e ko master?
HapusSadang penggarapan mando tukang cimees
HapusSukaaaa..
BalasHapusBahasany mudah dmngerti...
Fakta kayakx ni 😊😊😊😊
Selamat mnikmati rasa itu unc...
Aisshhh, itu fiksi alias khayalan tumah nyonyah
BalasHapusCerpen yang membawa kita ke dalam kisah sang tokoh. Kisah mengenai cinta dalam diam. Baper dedek bang 😂
BalasHapusAisshhh, pakai baper sagala, wkwkwkwkwkwk
Hapusini kisah nyata? uwuwuwuuwu
BalasHapusAntara nyata dan tidak nyata, mimpi kaleee
HapusYiha. .. Cinta pd pandangan pertama.
BalasHapusAishhhh ,hahaaaaaa
HapusHampir sama dengan cerita saya yg berawal dari sebuah bus,,, alhamdulialha sampai halal
BalasHapusWah kereeeen selamat bg
HapusBerharap ini fakta unc, dan aku segera di berikan undangan oleh kalian ��
BalasHapusD aamiinkan saja dulu ya ,terima kasih atas doanya ,😂
HapusWeewww kerenn...Di tunggu tulisan selanjutny y brother..
BalasHapusMakasih sis heheee
HapusDoakan saja mu sister
Nice ncu,kyk nyo pngalaman pribadi lah ko, dapek bana feel nyo. Ancak ngaku lai ncu 😄
BalasHapusHahaaaaa ,kenapa dan kenapa semua orang mengira begitu, bukan, itu fiksi doank yang terinspirasi pas nunggu bus jalan dulu dari Padang ,
HapusIni mah nyari in bidadari yg kesadaran di bus....
BalasHapusSemoga lekas ktmu kembali.. hahahaha.. mantab dek... "Katalis"....
Makasih kakak 😁
Hapus