Minggu, 27 Oktober 2024


 
CINTA DALA DIAM...

 
Aku ingin belajar mencintaimu seperti cintanya Ali kepada Fatimah, cinta dalam diam yang penuh asa pada yang kuasa. Diamnya Ali memendam rasa yang tak terbaca, bahkan tidak oleh syaitan sekalipun. Hanya Ali dan Tuhannya yang mengetahui bagaimana dia mencintai seorang putri orang paling mulia. Pada seorang perempuan yang bakal menjadi penghulu wanita di surga. cinta dalam diamnya Ali berlabuh pada pernikahan yang dirayakan tidak hanya di bumi, bahkan penghuni langitpun merayakan pernikahan Ali dam Fatimah.

Dan beginilah keadaanku, belajar mencintaimu dalam diam. memendam rasa yang kucurahkan pada yang maha kuasa, agar nikmat yang dirasakan Ali juga dapat aku merasakan. Apalah daya diri ini, dibandingkan Ali aku bukan lah siapa siapa. Aku bukanlah seorang yang mendapatkan fatimah dalam cintanya, aku juga tak secerdas Ali yang kata- katanya bahkan abadi sampai sekarang. Hanya saja aku ingin mencintaimu seperti cintanya Ali pada Fatimah. Rasa yang ingin kusampaikan dalam bait bait doa pada yang maha kuasa, membawa namamu dalam istikharah cinta.

                                                                                 ***

Angin membuat daun daun dipohon bertebangan, jatuh berserakan dalam sapu para pembersih jalanan. Ada yang bilang daun yang jatuh tak pernah membenci angin, tapi bagiku bukan tak membenci angin daun berguguran, hanya saja dedaunan tersebut tak punya daya menolak angin yang punya kuasa atas dirinya.

Hujan mulai  turun dengan derasnya, disertai badai yang  sigap mencabut daun dari batangnya. Tak hanya daun tua yang sudah layak meninggalkan dunia, daun muda pun berserakan, tak berdaya melawan kehendak yang jauh lebih besar dari kuasanya. 

Senja semakin duka, badai tak ada tanda tanda bakal mereda. Senja tak menemukan Jingga. 

Hujan badai berhenti menjelang tengah malam, menghadiahkan pagi yang begitu bersih. Jelaga jelaga yang bertumpuk hilang dari cakrawala, Padang Panjangku kembali menghadiakan kisah yang kuharap adalah kisah bahagia.

Indah pagi setelah badai, tak sejalan dengan kisahku. Hari ini kegiatanku kembali dalam rutinitas menjaga minimarket yang didirikan ayahku dikota kecil ini.

Hidup adalah mengenai cerita, apakah itu cerita meninggalkan ataupun ditinggalkan. Begitulah kira kira lirik sebuah lagu yang kudengar dari salah toko alat elekronik yang mengalun kerasnya.

Pintu toko dibuka, hatiku berdesir. Nanyian rindu terbayarkan oleh hadirnya. Dia yang selama ini kucintai dalam diam,  Zahra namanya. Anak dari pemilik toko buku di seberang tokoku. Dipisahkan jalan raya, namun itulah indahnya. Jalan pemisah bagaikan pemersatuku dengannya, setidaknya bisa kupandangi lewat jendela.

Zahra, dialah yang kuharapkan namanya bersanding dengan namaku dalam undangan pernikahan. Ali dan Zahra, seakan menjadi simbol pemersatu dari jauhnya dua huruf awal dan akhir. Bukankan menikah itu menyatukan hal hal yang berbeda? Setidaknya itulah yang menjadi  harapanku akan dirinya.

Zahra menyerahkan belanjaanya padaku dan seatu  yang dibungkus plastik rapi.

"Bang Ali datang ya kepernikahan Zahra".

Hatiku terasa sakit, jantungku berdetak dengan kencang. Perubahan ekspresiku terbaca olehnya. Membuat mukaku semakin memerah.

"Bg ali tak apa apa?"

"Oh ya, tak apa. InsyaAllah aku datang".

Cintaku tak berujung, Zahra bakal menikah dengan orang lain. Ali tak menemukan 'Fatimahnya", Zahra pergi meninggalkan Ali dalam duka.

Dua tahun memendam perasaan, saat pertama melihat dia datang ke kota ini. Membuka toko persis didepan tokoku, sejak saat itu Zahra selalu menghiasi hari hariku. Zahra adalah kebahagianku, paling tidak itulah harapanku sampai undangan ini merusak segalanya.

Cinta butuh perjuangan, Ali memang mencinta fatimah dalam diam. Namun pada akhirnya, dengan sedikit keberanian Ali berhasil mempersunting fatimah.
Namun aku adalah Ali yang berbeda, Ali yang pengecut. Hanya memendam rasa dalam diam, tanpa berani mengutarakan. Sampai 'Fatimah' Zahra harus dipinang orang asing yang mungkin ku kenal. Dikota kecil ini, satu daun yang jatuh disudut kota, bakal terdengar bunyinya disudut kota lainnnya.

Duniaku seakan musnah, kota ini tak senyaman seperti selama ini. Rasa bangga dan senang dengan udaranya yang sejuk, sekarang berganti dengan perasaan muak yang teramat sangat.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar