Minggu, 27 Oktober 2024


 
CINTA DALA DIAM...

 
Aku ingin belajar mencintaimu seperti cintanya Ali kepada Fatimah, cinta dalam diam yang penuh asa pada yang kuasa. Diamnya Ali memendam rasa yang tak terbaca, bahkan tidak oleh syaitan sekalipun. Hanya Ali dan Tuhannya yang mengetahui bagaimana dia mencintai seorang putri orang paling mulia. Pada seorang perempuan yang bakal menjadi penghulu wanita di surga. cinta dalam diamnya Ali berlabuh pada pernikahan yang dirayakan tidak hanya di bumi, bahkan penghuni langitpun merayakan pernikahan Ali dam Fatimah.

Dan beginilah keadaanku, belajar mencintaimu dalam diam. memendam rasa yang kucurahkan pada yang maha kuasa, agar nikmat yang dirasakan Ali juga dapat aku merasakan. Apalah daya diri ini, dibandingkan Ali aku bukan lah siapa siapa. Aku bukanlah seorang yang mendapatkan fatimah dalam cintanya, aku juga tak secerdas Ali yang kata- katanya bahkan abadi sampai sekarang. Hanya saja aku ingin mencintaimu seperti cintanya Ali pada Fatimah. Rasa yang ingin kusampaikan dalam bait bait doa pada yang maha kuasa, membawa namamu dalam istikharah cinta.

                                                                                 ***

Angin membuat daun daun dipohon bertebangan, jatuh berserakan dalam sapu para pembersih jalanan. Ada yang bilang daun yang jatuh tak pernah membenci angin, tapi bagiku bukan tak membenci angin daun berguguran, hanya saja dedaunan tersebut tak punya daya menolak angin yang punya kuasa atas dirinya.

Hujan mulai  turun dengan derasnya, disertai badai yang  sigap mencabut daun dari batangnya. Tak hanya daun tua yang sudah layak meninggalkan dunia, daun muda pun berserakan, tak berdaya melawan kehendak yang jauh lebih besar dari kuasanya. 

Senja semakin duka, badai tak ada tanda tanda bakal mereda. Senja tak menemukan Jingga. 

Hujan badai berhenti menjelang tengah malam, menghadiahkan pagi yang begitu bersih. Jelaga jelaga yang bertumpuk hilang dari cakrawala, Padang Panjangku kembali menghadiakan kisah yang kuharap adalah kisah bahagia.

Indah pagi setelah badai, tak sejalan dengan kisahku. Hari ini kegiatanku kembali dalam rutinitas menjaga minimarket yang didirikan ayahku dikota kecil ini.

Hidup adalah mengenai cerita, apakah itu cerita meninggalkan ataupun ditinggalkan. Begitulah kira kira lirik sebuah lagu yang kudengar dari salah toko alat elekronik yang mengalun kerasnya.

Pintu toko dibuka, hatiku berdesir. Nanyian rindu terbayarkan oleh hadirnya. Dia yang selama ini kucintai dalam diam,  Zahra namanya. Anak dari pemilik toko buku di seberang tokoku. Dipisahkan jalan raya, namun itulah indahnya. Jalan pemisah bagaikan pemersatuku dengannya, setidaknya bisa kupandangi lewat jendela.

Zahra, dialah yang kuharapkan namanya bersanding dengan namaku dalam undangan pernikahan. Ali dan Zahra, seakan menjadi simbol pemersatu dari jauhnya dua huruf awal dan akhir. Bukankan menikah itu menyatukan hal hal yang berbeda? Setidaknya itulah yang menjadi  harapanku akan dirinya.

Zahra menyerahkan belanjaanya padaku dan seatu  yang dibungkus plastik rapi.

"Bang Ali datang ya kepernikahan Zahra".

Hatiku terasa sakit, jantungku berdetak dengan kencang. Perubahan ekspresiku terbaca olehnya. Membuat mukaku semakin memerah.

"Bg ali tak apa apa?"

"Oh ya, tak apa. InsyaAllah aku datang".

Cintaku tak berujung, Zahra bakal menikah dengan orang lain. Ali tak menemukan 'Fatimahnya", Zahra pergi meninggalkan Ali dalam duka.

Dua tahun memendam perasaan, saat pertama melihat dia datang ke kota ini. Membuka toko persis didepan tokoku, sejak saat itu Zahra selalu menghiasi hari hariku. Zahra adalah kebahagianku, paling tidak itulah harapanku sampai undangan ini merusak segalanya.

Cinta butuh perjuangan, Ali memang mencinta fatimah dalam diam. Namun pada akhirnya, dengan sedikit keberanian Ali berhasil mempersunting fatimah.
Namun aku adalah Ali yang berbeda, Ali yang pengecut. Hanya memendam rasa dalam diam, tanpa berani mengutarakan. Sampai 'Fatimah' Zahra harus dipinang orang asing yang mungkin ku kenal. Dikota kecil ini, satu daun yang jatuh disudut kota, bakal terdengar bunyinya disudut kota lainnnya.

Duniaku seakan musnah, kota ini tak senyaman seperti selama ini. Rasa bangga dan senang dengan udaranya yang sejuk, sekarang berganti dengan perasaan muak yang teramat sangat.














Rabu, 17 Juni 2020

Fajar dan Senja...


"Fajar, kita sudah terlalu jauh melangkah. Walau kita tak satu keluarga, kita satu suku di tanah yang menjunjung tradisi dan adat. Yang bearti hubungan kita takkan pernah disetujui ninik mamak dan keluarga besar kita masing masing. Dalam tradisi minangkabau hubungan kita jelas terlarang. Walau beda jorong tapi kita masihlah satu suku dalam nagari, dan kau tau bukan hanya kita yang terhinakan, kedua orang tua dan bahkan kaum kita juga akan terhina." 

"Senja, kita sudah mengikat janji sejak dibangku SMA dulu. Lupakah kau dengan janji itu?"

Senja terdiam cukup lama, mana mungkin dia melupakan janji yang pernah dia dan fajar buat dahulu. Janji yang mengikat  mereka untuk selalu bersama, tak perduli seberapa jauh jarak memisahkan dan berapa lama waktu tak mempertemukan. janji dalam sumpah terucap bahwa cinta mereka takkan terbagi, dan mereka berusaha menepati janji walau tak berusaha bertemu dan bicara setelah itu.

"Fajar, aku ingat akan janji itu. Walau sekian tahun tak bertemu setelah janji itu terucap, aku tetap menjaga hatiku untukmu."

"Lalu kenapa kau memutuskan janji yang kita buat dulu saat aku sudah siap memenuhi janji tersebut."

"Selama dua tahun ini, setelah menyelesaikan kuliah dan memperoleh pekerjaan. Tawaran untuk menikah silih berganti, semua aku tolak karena janjiku padamu. Sungguh fajar, sampai saat ini aku masih memegang janji tersebut. Terlebih lagi janji tersebut bukan tanpa sebab, karena dari awal aku sudah memilihmu lantaran rasa sukaku padamu."

Suasana hening dalam cafe yang sedang sepi, hanya ada mereka berdua dipojok yang jauh dari kuping pelayan. Fajar sesaat sempat senang saat senja bilang rasa suka padanya. Kesenangan sesaat sampai percakapan mereka kembali dimulai.

"Fajar, saat kau menghubungiku kembali setelah sekian lama, hatiku teramat senang," kata senja memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat. "Terlebih kau bilang bakal melamarku, hatiku membengkak saking senangnya."

"Dan itu benar yang kuinginkan, hingga kita bertemu disini dan kau menghancurkannya."

Senja menatap kebawah sambil menyeka air matanya, perempuan tercipta dengan perasan yang lebih kuat yang jarang dimengerti laki laki.

"Fajar, Jangan pikir hatiku juga tak hancur." Balas senja dengan ucapan yang berupa bisikan, nyaris tak didengar fajar.

"Waktu kau bilang ingin melamar, aku menghubungi kedua orang tuaku di kampung. Awalnya mereka senang karena kabar gembira aku telah menemukan jodohku. Tapi setelah aku memberi tau mereka kaulah orangnya, siapa dirimu. Kedua orang tuaku marah bukan main, terlebih ayahku yang bergelar datuk. Kemana wajah dia hadapkan karena keegoisanku yang menginginkanmu".

"Senja, bagaimana adat bisa memisahkan kita yang secara agama tak melarang. Kita bisa menikah disini dan kalau bisa kita hitamkan saja kampung dan adat kita."

"Kita bisa saja melakukannya, menikah secara agama tanpa adat. Tapi bagaimana pernikahan bisa terbentuk secara agama jika aku tak memiliki ijin dari wali sahku, ayahku sendiri."

Senja semakin mengalirkan air mata, sementara fajar semakin bingun dan frustasi dengan keadaan ini. Mengapa adat menghalangi hubungan mereka. Sementara agama sendiri tak melarangnya. Fajar berpikir bahwa mereka benar dalam hal ini, mereka hanya sempat membuat janji sebelum mereka sama sama tamat bangku SMA dulu, setelah itu mereka berpisah memenuhi impian masing masing.

"Fajar, mungkin inilah akhir kisah kita. Sejak awal cahaya yang membuat kuncup kisah cinta ini memang terhalang sesuatu, sehingga tak memungkinkan untuk mekar."
 
Fajar tak menyukai ucapan senja, bagi fajar cinta pada senja sudah mekar sejak lama. Bahkan nyaris tak berkuncup, melainkan mekar utuh menjadi bunga cinta yang menghiasi hatinya.

"Tidak, ini tidak benar. Aku sudah menjaga hatiku selama ini. Takkan kubiarkan cintaku ini kandas begitu saja. Sudah terlalu lama aku menekannya."

Senja terdiam cukup lama, sampai fajar tak sabar dengan kehening itu.

"Senja, jawab aku." Tuntut fajar yang semakin frustasi akan keheningan tersebut "Apakah janji tersebut hanya ucapkan kosong belaka, apakah tak ada cinta untukku?"

Senja merasa Fajar menuduhnya sengaja mengkhianati janji, menuduh bahwa janji tersebut tak dibangun atas nama cinta.

"Janji itu bukanlah ucapan kosong berlaka, seakan akan selamanya cintaku hanya ada untukmu," balas senja yang sudah mulai menguasai air matanya.

"Maka, kita harus berjuang demi cinta kita senja,"

Senja menggelengkan kepalanya, menolak perkataan fajar.

"Sebuah akhir tentunya memiliki awal, seperti kesepakan bahwa fajar adalah awal dan senja adalah akhirnya.
Dan beginilah, Fajar dan Senja hanya d ijinkan saling merindu, tanpa bisa bersatu. Kita sepakati saja bahwa keberadaan cinta kita lebih dari cukup, walau kita memaksakan untuk bersatu, akan ada yang tersakiti, akan ada bagian yang harus dihilangkan, entah siang atau malam. Dalam hal ini keluarga kita masing masing. " tutur senja yang memberikan pukulan berat bagi fajar.

"Kondisi terberatnya, Jika salah satu dari siang atau malam-- entah itu keluarga ataupun adat dihilangkan agar fajar dan senja bisa bersatu. Maka keberadaan kita malah MENJADI TIDAK BEARTI."

Fajar lemas tak bergerak, kata kata senja menjadi begitu tajam baginya. kata kata senja menghadirkan ingatan akan ibunya yang tinggal sendiri di kampung. Menghitamkan kampung dan adat bearti juga menyangkut ibunya dan itu sangat menyakitkan. Tapi membayangkan untuk pisah dengan senja juga sangat menyakitkan.
   

"Fajar, maafkan aku.
Inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Setelah sekian lama, inilah pertemuan pertama dan mungkin sekaligus menjadi pertemuan kita yang terakhir. "

Senja berjalan keluar cafe tanpa memberikan kesempatan fajar untuk bicara.
                                           
                                                         Bersambung

Minggu, 28 Juli 2019

 ASSALAMU'ALAIKUM CINTA2


Dan setiap yang berawal pasti punya akhir, setiap pertemuan bakal punya perpisahan. Paling tidak terpisah oleh maut. Manusia punya hak untuk merencanakan dengan siapa dia berjodoh, memilih kriteria pasangan ideal yang diinginkan. Namun bukankah takdir manusia sudah ditentukan, tertulis dalam kitab yang nyata - lauh mahfuzh. 

BAGAIMANA KALAU TAKDIR LEBIH MENJODOHKAN DENGAN KEMATIAN?

***

Hujan mengguyur Padang Panjang dengan lebatnya, sebuah kota kecil yang lebih sering turun hujan dibandingkan tempat lain di Sumatera Barat. Di sebuah kedai di dekat lampu merah Silaing  aku berteduh, menunggu hujan reda sekaligus menunggu bus yang bakal mengantarku ke kota Padang. Kota yang kubenci sebenarnya. Bagaimanapun aku tak menyukai cuaca panas.

Hampir dua jam hujan turun, hampir sama lamanya aku menunggu bus datang. Beberapa bus sebenarnya tadi lewat tapi aku urungkan untuk menaikinya, lebih baik menungu daripada aku harus basah kuyup.


Aku menyetop bus yang bakal mengantarku ke kota Padang. Mengulang aktivitas yang hampir setahun ini aku lakukan, untuk mencari momentum agar bisa bertemu denganmu lagi. Menaruh penuh harap bus kita tak hanya sekedar mempertemukan tapi mempersatukan, Aamiin.


Bus yang aku hentikan adalah bus dari Payakumbuh, tertera di depannya rute tujuan dari bus itu. Untungnya tinggal di kota ini adalah aku berhak memilih dan menaiki bus mana saja sesukaku. Aku bebas menaiki bus dari arah Bukittinggi, Payakumbuh ataupun Batusangkar. Dengan satu syarat bersabar kalau bus penuh, harus menunggu bus lainnya. 

Hatiku berdesir, ada perasaan yang menyeruak bahagia. Perasaan yang datang kala tangan ini meraih gagang pintu. Semoga ini menjadi pertanda baik dari pencarianku.

Bus tidak begitu ramai, hanya ada beberapa penumpang. Aku  merasakan kekecewaan, tidak ada tanda-tanda bahwa kau berada di bus ini, bus kita hanya menjadi angan angan.

Aku memilih duduk di bangku tunggal di sebelah bangku ganda yang diduduki seorang pria dan seorang wanita bercadar, menunduk membaca mushaf kecil di tangannya.

Perasaan kecewa ini membuatku ingin turun dari bus, tapi sialnya hujan kembali turun dengan sangat lebat. Sehingga aku memilih tetap dalam bus sambil mengeluarkan novel yang selalu aku bawa kemana mana. Novel yang dahulu menjadi katalis dalam pembicangan aku dan dia. Novel yang menjadi favoritku sepanjang masa. It's becouse of you.

Aku tenggelam dalam kisah cinta dan pengkhianatan, Cinta pria yang meminang gadis lewat proses ta'aruf. Menawarkan cinta yang begitu murni, tapi harus dikhianati wanita yang memilih pria lain.

Pria yang duduk di sebelahku menepuk pundakku dengan pelan. Aku menoleh mencari tau apa yang di harapkannya dariku, karena jelas saat melihatnya tadi aku tak mengenalnya.

" السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Maaf menganggu bang, ada yang mau bicara sama abang," kata pria tersebut sambil menunjuk wanita bercadar disebelahnya.

" السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ bang" wanita bercadar itu berkata dengan nada tertahan namun sopan, ada nada malu dalam suaranya yang berusaha dia samarkan.

Namun yang menjadi fokusku adalah bukan mengenai nada malu dari si wanita. Seperti suara yang sangat familiar. Aku mengingat semua informasi tentangnya dengan baik. Suaranya, cara dia berbicara, namanya dan terutama wajahnya. Atau aku hanya seorang yang mengalami kerinduan sehingga harapan membawaku pada khayalan yang salah.

" وَعَلَيْكُمْ لسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ " aku membalas sapaannya dengan sesopan mungkin.
"Ada yang bisa saya bantu uni?".

Wanita bercadar itu menatap novel yang sedang kupegang "Apa uni penasaran dengan novel ini?" Aku menanyakankan padanya yang masih melihat ke buku yang kupegang "atau uni mau membacanya".

"Oh bukan begitu. Aku lebih penasaran dengan orang yang memegang buku tersebut," balas dia dengan sopan.

"Dengan saya uni? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Aku berusaha mengingat apakah pernah bertemu wanita bercadar ini di suatu tempat, tapi aku tak mampu mengingatnya.

"Aku cukup yakin, sekitar setahun lalu pernah bertemu dengan pemuda yang cara bicaranya adalah pemuda yang baik budinya, sopan dan santun. Yang waktu itu dia mau aku susahkan untuk memegang tumpukankan bukuku dan saling berbagi pikiran membahas novel  yang sedang abang baca itu."

MasyaAllah, pencarianku akhirnya membuahkan hasil. Akhirnya titik dimana takdir mempertemukan kita untuk kedua kalinya menjadi hal yang sangat istimewa. Hanya saja kenapa tidak dari awal naik bus ini aku sadar bahwa dia nyata.

Aku merasa sangat bersyukur novel  ini membawa kenikmatan yang begitu indah, membuatku semakin menyukai novel ini lebih dari sebelumnya.

"Waaah, Sepertinya takdir mempertemukan uni dengan pemuda yang baik budinya itu kembali," aku membalas ucapannya penuh kemenangan. Dan berharap takdir lebih berpihak padaku kali ini. Aku ingin mengusir pria yang disebelahnya, atau agar tidak begitu kasar meminta pindah kursi. Tapi ada perasaan yang menahanku untuk melakukannya.

Perasaan senang menyelimutiku, hatiku berdebar kencang. Nadi nadi mengalirkan darah yang membara. Aku begitu hidup, seperti bunga yang kembali mekar setelah sempat nyaris layu.

"Sepertinya novel yang abang pegang itu adalah cara Tuhan mempertemukan kita untuk kedua kalinya, dan takdir Tuhan juga bahwa kita bertemu dalam bus lagi."

Aku sangat menyetujui kalimat yang dipakainya. Namun ada yang kurang, bagiku novel ini adalah katalis yang mempercepat pembincangan kami atau kalau boleh aku berharap bakal menjadi katalis dalam hubungan kami.

"Tapi tidakkah abang bosan dengan novel itu?"

Aku tersenyum, memberikan senyum terbaikku, seperti senyuman yang pernah aku berikan padanya dulu.

"Oh iya, ini adalah suami saya. Perkenalkan bang." Dia menunjuk kearah pria di sebelahnya.

Bagai petir yang datang menyambar dengan cepat, senyumku tiba tiba hilang mendengar kata suami. Aku menoleh pada pria yang dipanggilnya sebagai suami. Seorang pria yang sangat cocok dengannya, gagah dan lebih penting memiliki pemahaman agama yang kuat. Terlihat dari perawakan dan pakaian yang dia kenakan.

Aku berusaha mengangkat tangan untuk menjabat tangan pria yang memiliki hak atas dirinya. Memperkenalkan diri seramah mungkin yang bisa aku lakukan.

Dalam imajinasi liarku, saat menjabat tangan suaminya. Aku memikirkan berbagai cara untuk melenyapkan si Pria. Otatku bekerja cepat menvisualkan berbagai cara yang bisa ku lakukan. Dari suatu yang rasional menggunakan tangan alias jotos atau alat seperti kayu atau sejenisnya, ada juga cara irrasional seperti menggunakan  kutukan Avadra Kadavranya Harry Potter.

Adegan demi adegan tersebut untungnya tertahan, aku berusaha beristiqfar sehingga mencegahku menjadi sosok yang hina. Bukankah menyakiti sesama muslim sama saja menyakiti seluruh umat muslim di dunia.

Setelah perkenalan basa basi itu, aku kembali duduk keposisi semula, menghadap ke depan, berusaha menyembunyikan perasaan kecewa, marah, dan sedih. Tak ada minat untuk meneruskan pembincangan.



Aku kembali membenci Hukum Relativitas Einstein. Kenapa waktu terasa begitu lama. Aku ingin segera sampai dan meninggalkan mereka dalam dukaku.

     Terkadang takdir punya caranya sendiri, 
     Bukan mempermainkan yang sering salah         duga,
    Karena mungkin Allah hanya bermaksud mempertemukan,
    Tapi bukan untuk dipersatukan,
    Walau sekuat apapun mencoba menjadi satu,
    Tetap saja takdir berkata lain. 

Air mataku mulai mencuat di ujung mataku, lamunan membawaku pada ketidaksadaran. Sehingga tak sengaja mengutip kata kata dalam novel yang pernah jadi favoritku. Setidaknya sampai beberapa menit lalu.

Aku berusaha mengusap air mata dengan diam, berusaha untuk tidak menarik perhatian dua penumpang di sebelahku.

"Bukunya jatuh bang," suaminya menepuk pundakku dan menunjuk ke arah novel yang tergelatak di lantai bus.

"Oh iya, terima kasih bang," aku membalas dengan senyum yang dipaksakan sambil mengambil novelku dengan malas. Aku sudah tidak mempedulikan novel itu, sudah bukan menjadi favoritku.


Aku menoleh sebentar padanya ketika memungut novelku, dan yang membuatku terkejut dia sedang melihat kearahku, mata kami saling bertemu sebentar. Kemudian aku kembali ke posisi semula.

Ada tanya dalam matanya, apa aku terlalu keras membaca kutipan novel tadi. Aku tau dia mengetahui kutipan tersebut yang kuambil dari novel yang sedang kupegang ini.  Dan apa dia sempat lihat ada air mata sebelum aku berusaha menghapusnya.

Aku muak dalam kondisi ini, muak dengan takdir ini. Muak dengan hubungan mereka. Muak dengan suaminya yang menjadi jurang antara aku dengan dia. Aku muak dengan hari ini yang mempertemukan kami, berharap ini tak pernah terjadi dan pencarianku masih berlanjut sampai kapanpun.

‘Bang kiri bang,’ Aku menyetop bus, tak tahan harus berada lebih lama lagi dalam kondisi ini. Membiarkan bus ini menjadi bus mereka.

"Aku turun duluan bang dan uni,"

"Bukannya bang mau ke Padang, ini baru sampai Lubuk Alung?" Suaminya bertanya basa basi.

Aku memaksakan senyum "Saya baru ingat ada yang tertinggal yang harus saya jemput bang."

"Mari bang." Aku menganggut minta pamit padanya dan melirik si wanita untuk terakhir kalinya. Namun dia sudah membaca mushafnya kembali.

Lubuk Alung membara. Kombinasi yang kejam antara terik matahari dan hatiku yang memanas. Untungnya aku turun tepat di depan halte, sehingga aku bisa berteduh sebentar.

Aku duduk sambil membolak balik halaman halaman novel yang kupegang, tanpa bermaksud membacanya. Kenapa novel ini sudah tak menarik lagi?

KARENA DIA SUDAH TAK BISA KURAIH LAGI, batinku. 

Entah sudah berapa bus yang kulewatkan, tangan ini masih membolak balik halaman novel. Hingga aku berhenti di bagian aku mengutip kata kata yang tak sengaja aku baca dalam bus tadi.

Aku membayangkan sitokoh utama dalam novel, Pria yang harus menelan pahit karena harus di tinggalkan wanita yang bakal dinikahinya seminggu sebelum akad. Proses ta'aruf yang dia lalui ternyata membuat si wanita merasa terpaksa dan harus melarikan diri dengan laki laki lain yang dia pilih.

Menyakitkan - Mungkin itu yang dirasakan pria tersebut, seperti keadaanku saat ini yang merasa sakit. Namun daripada menahan sakit hati dan berduka, pria tersebut lebih memilih mengikhlaskan. Berpikir bahwa dia bukan yang terbaik bagi wanita, bahwa wanita tersebut tak cukup baik baginya. Sesuatu yang tak bisa aku lakukan, ternyata mengikhlaskan jauh lebih sulit.

Aku kembali membaca bagian dimana Pria mengikhlaskan wanita ketika dia mengutarakan isi hatinya pada ustaz yang berperan dalam proses ta'arufnya. 


     Terkadang takdir punya caranya sendiri, 
     Bukan mempermainkan yang sering salah duga,
    Karena mungkin Allah hanya bermaksud mempertemukan,
    Tapi bukan untuk dipersatukan,
    Walau sekuat apapun mencoba menjadi satu,
    Tetap saja takdir berkata lain.

    Manusia hanya dapat memilih maksud dan tujuan,
    Namun Allah-lah yang menentukan.

    Kalau silahturahmi memperpanjang usia,
    Mungkin pertemuan dimaksudkan untuk suatu yang beda,
    Walau hati manusia punya asa,
    Ada saja pihak yang bahagia sementara pihak lain harus terluka.

    Namun...
    Allah tak menyia nyia,
    Bisa saja yang terbaik sedang menanti,
    Menunggu takdir menentukan kata pasti,
    Sementara yang pergi akan terganti.



Aku menutup novel tersebut, mencoba memahami si tokoh utama dalam mengikhlaskan. Bagaimanapun aku mencoba memahami, tetap saja ikhlas itu tak kunjung datang.

Bagiku, Semua terjadi pada suatu titik, yang disebut sebagai momentum. Titik dimana aku bertemu dengan dia. Titik dimana harapan muncul, titik dimana aku berusaha mencarinya.

Sekarang aku harus menemui titik dimana harus berpisah, melupakannya. Karena adanya jurang yang tak mungkin aku lalui. Kalau aku memaksa menempuh jurang tersebut dan bukan berarti tak mungkin. Hanya saja aku tak mau mengedepankan egoku, akan ada yang harus disakiti. Apakah itu aku sendiri, atau dia dan bahkan mungkin suaminya. Dan mungkin bakal menyakiti kami sekaligus.

Aku kehilangan harapan, takdir ini begitu kejam. Cinta ini harus berakhir saat kuncupnya menunggu mekar. Titik dimana momentum pertemuan yang seharusnya menjadi Assalamu'alaikum Cinta, harus berganti dengan duka.

Aku lupa berapa lama waktu yang kuhabiskan di Halte itu. Terik matahari sudah beranjak  dari langit menyisakan riak awan jingga menjelang senja. Dengan usaha yang dipaksakan aku beranjak ke seberang jalan untuk bus yang bakal membawaku kekampung halamanku. Berharap dinginnya kota Padang Panjang bisa mengurangi panasnya hatiku yang membara oleh amarah dan kecewa. Meninggalkan novel yang selalu menemaniku tergeletak bersama kenangan di belakangku. Aku tak bermaksud kembali ke Padang, bahkan padang yang dari awal aku benci semakin kubenci. Aku ingin pulang. Merenung dalam dekap kamarku yang sunyi.

"Ma, aku ingin pulang," aku mengirim pesan pada ibuku dengan perasaan yang begitu ingin dekapan seseorang. Mungkin dekapan ibu adalah cara teraman untuk mencurahkan segala keluh kesah.


Dan garis takdirku pun harus diputuskan detik itu. Bersama dengan bus ugal ugalan, menerjang tubuhku seketika. Senja jingga itu semakin merekah bersama darah yang mengalir dari sekujur tubuhku, kegelapan menarikku semakin dalam. Dalam dan semakin dalam.

AKUPUN TAK PERNAH KEMBALI.

Rabu, 26 Desember 2018


Sebuah "KETOKAN"

Senin, 24 Desember 2018, setelah tak tentu arah mengelilingi Gunung Marapi dari Padang Panjang-Batusangkar-Baso hingga Bukittinggi, perjalanan dilanjutkan kelereng Singgalang. Sebuah tempat yang baru digarap untuk pariwisata yang bakal menjadi primadona di daerah Agam.

Sekitar pukul setengah enam sore kami baru sampai di daerah Pakan Sinayan dan masuk simpang, jalan menanjak adalah rute yang harus kami lewati nemenbus perkampungan dan ladang yang terasa asri. Dingin hawa dari pinggangan gunung Singgalang setia membelai, mengelitik tubuh yang mulai kedinginan.

Sampai dikampung terakhir, kami meminta ijin untuk menitip motor disalah satu rumah warga dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kami harus melewati jalan menanjak, butuh usaha yang lumayan keras untuk sampai di tujuan. Apalagi kami bukanlah tipe yang giat berolahraga.

Jingga menyapa di ujung senja, langit menampakkan keindahan spectrum orange bercampur warna nila takkala kami sampai ditujuan yang memanjakan mata. Lantungan suara adzan maghrib saling sahut menyahut terdengar dari satu mesjid kemesjid lainnya.

Setelah istirahat sejenak, dengan ditemani kopi panas dan gorengan yang kami bawa dari bawah, tubuh kembali melupakan lelah, lelah yang terbayarkan oleh pemandangan didepan yang sangat memanjakan mata. 

Ada satu ritual yang takkan dilupakan tatkala menemukan tempat yang kece menurut era milineal sekarang, yaitu ritual ber-photo. Bukittinggi dan daerah sekitarnya mulai menampakkan keindahan dari jutaan sinar lampu seiring malam yang semakin gelap .

Malam semakin pekat, cahaya lampu dari kota bukittinggi dibawah kami semakin memanjakan mata, membuat betah berlama lama walau dingin semakin membekukan. Dengan memanfaatkan kamera Smartphone dan harus dibantu pencahayan sana sini, satu persatu photo terekam dalam bingkai yang diharapkan. 

"Tok tok tok", ada bunyi seperti orang sedang memukul besi disalah satu sudut didekat mushala yang belum selesai dibangun. Nyali mulai ciut, tapi aksi jepret-jepret masih berlanjut seakan hal tersebut bukanlah apa-apa.


"Tok tok tok", terdengar bunyi yang sama untuk kedua kalinya, tapi yang ini terdengar lebih keras dari yang pertama. Bulu remang ditubuh mulai berdiri tak terkendali. 


Kami memutuskan menyudahi ber-photo dan segera mengemasi barang-barang kami. "Tinggalkan saja sedikit kopi disini," salah satu kawan berkata sambil menunjuk botol berkas yang sudah ada disana. “Sala (sala lauak) tinggal juga beberapa" imbuh yang lain.

Mendengar kedua orang kawan tadi berkata begitu, nyaliku dan yang lainnya tambah ciut. Kami mengemasi barang semakin cepat. Padahal kami belum puas memandangi keindahan yang terhampar didepan kami.. 

Bak lomba lari, kami berusaha adu cepat untuk saling mendahului satu sama lain Gonggongan anjing terdengar dari arah perkampungan semakin membuat dada semakin berdebar. Langkah kakipun semakin cepat. Mendekati kampung hawa mistis semakin tertinggal di belakang kami dan jantung sudah mulai berdetak normal

Setelah permisi dan berterima kasih pada penduduk tempat kami nitip motor. Kami langsung  menggas motor dan segera meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan jejak mistis dibelakang kami.

Sesampainya di Guguak Randah, dirumah salah satu kawan, perasaan lega mulai membanjiri pembuluh darah kami. Seakan kami terbebas dari satu hal diluar nalar. Namun kisah ini tidak hanya menjadi sejarah yang dilupakan dan menjadi topik yang kami pembicangan sepanjang sisa malam hingga kami terlelap dalam tidur.

Salah seorang teman yang memiliki kepekaan lebih akan keberadaan hawa mistis berkata "Seperti inyiak, dan hawa keberadaanya sebenarnya sudah mulai terasa saat kita sampai disana” tuturnya sambil meraih minum sebelum melanjutkan ceritanya “sejak awal saya sudah mendengar samar langkah langkah kaki berat namun saya acuhkan”. 

‘Inyiak’ adalah sebutan untuk harimau mistis, dipercaya beberapa orang yang dahulunya belajar suatu ilmu tertentu keika wafat akan menjelma menjadi sesosok harimau, ada juga ‘inyiak’ yang dipelihara sebagai penjaga. Terlepas dari benar atau tidaknya, satu hal yang jelas. Ada bagian dunia yang berbeda satu sama lain dibumi ini, ada makhluk ghaib yang tak kasat mata, dunia jin. Kita menempati satu bumi yang sama walau kita manusia tak punya kemampuan melihat dunia mereka. Namun terkadang jin ini menunjukkan eksistensinya, apa karna merasa terganggu dengan keberadaan manusia atau emang karena tugas mereka adalah menganggu manusia. Sehingga terkadang mereka menunjukkan keberadaanya.

Akan lebih bijak kalau kita manusia lebih berhati hati dan tak membiasakan keluar saat waktu waktu yang disukai oleh para jin. Seperti waktu maghrib misalnya. Semoga kita terlepas dari pengaruh dan godaan jin yang menyesatkan.











Selasa, 27 November 2018

     Assalammualaikum Cinta

Terik matahari masih setia menemani Kota Padang. Di tengah panasnya cuaca, aku terjebak dalam bus yang akan menuju kotaku yang sejuk, Padang Panjang. Sopir bus masih menunggu tambahan penumpang. Panas ini sudah membuatku hampir mimisan. Aah, aku masih saja tak suka Kota Padang.

Masih ada dua bangku kosong. Satunya bangku di sebelahku. Seorang ibu datang dengan keringat yang membanjiri bajunya. Dia duduk di bangku yang lain. Bangku di sebelahku masih kosong.

Si sopir menghidupkan bus dan turun lagi. Dia membiarkan mesin menyala. Entah untuk memanaskan mesin atau hanya memberi harapan pada para penumpang yang sudah kegerahan dan emosi karena tidak kunjung berangkat. Kami masih menunggu satu penumpang yang menguji kesabaran.

Lalu disitulah kau datang, memberikan kelegaan untuk semua orang. Aku terpaku diam. Bangku yang tersisa hanya di sebelahku. Artinya kau tidak bisa menolak untuk bersebelahan denganku. Seribu ucap dalam hati, bertasbih, berdoa meminta perlindungan Illahi agar aku tidak tergoda memandang wajahmu.


Walau kau dibalut pakaian serba tertutup, wajahmu tetap terbuka sehingga bebas kupandangi. Tapi itulah yang membuatku jadi tak karuan. Kau telah menghipnotis lelaki yang malang ini.

Sopir akhirnya menjalankan bus yang kunaiki, yang kau naiki, atau lebih tepatnya yang kita naiki. Gerah dan emosi penumpang pun perlahan menghilang. Tinggal aku yang masih panas dengan emosi yang lain.

"Bang, keberatan tidak memegang ini sebentar?" kau bertanya.  Kujawab dengan anggukan, kaget aku mak. Kau langsung menaruh benda itu di atas tanganku. Tumpukan buku yang menandakan siapa dirimu. Sementara kau berusaha menggeledah isi tasmu sampai kau yakin semua sudah sesuai semestinya.


Selebihnya kita sibuk dengan urusan masing masing. Sampai setengah jalan lepas Lubuk Alung, aku baru sadar kau memegang buku yang juga sedang ku baca. Buku itu tersimpan dalam tasku. Dengan nada sok santai menahan gugup, ku beranikan diri membuka percakapan kita. Tentu dengan buku itu sebagai katalisnya.

Lalu kita mengalir dalam pembahasan mengoreksi buku tersebut. Aku menyimak kau bertutur sambil sesekali melirik wajahmu, tentu tanpa seijinmu. Kita bercakap tanpa saling perkenalkan diri, dan itu berlanjut sampai kita berpisah.

Kau sangat menarik. Kau tidak menutup diri karena pakaianmu. Kau mudah bergaul dengan bahasamu yang halus dan budi pekerti yang dibangun dengan pondasi agama yang kuat tentunya.

Kemudian waktu mengambil peranannya. Tiba-tiba aku membenci Einstein dengan Hukum Relativitasnya. Satu setengah jam yang biasanya lama kini terasa amat pendek. Aku harus turun di kotaku, sementara kau tak ada tanda akan ikut turun. Dengan nada malas aku menyetop bus kita (maaf kalau aku menggunakan kata kita), dan permisi sambil memberikan sedikit senyuman terbaikku.

Gravitasi menarikku lebih kuat. Aku seperti kena kutukan "imprint" yang tak rela meninggalkanmu. Si sopir sampai berteriak padaku, dan dengan tenaga tersisa aku berhasil keluar bus kita. Sementara aku menutup pintu, ku sempatkan melirikmu sekali lagi dan disana kau melakukan hal yang sama. Kau memberikan senyuman terbaikmu padaku. Kau pun mulai hilang dari pandangan. Bus itu bukan lagi bus kita.


Aku butuh waktu tambahan untuk mengembalikan energiku yang tersedot padamu. Ku tersenyum malu ketika membayangkan kembali saat kau pertama menyapaku di bus kita. 

Saat kau meminta untuk memegangkan bukumu. Saat kau sibuk dengan tasmu, aku menemukan suatu yang kubutuhkan. Goresan nama dalam bukumu itu kuyakin adalah namamu. Aku akan menyebutnya dalam doaku, menjadikan kau bagian istiqarah cintaku. Sampai kita bertemu lagi dengan cara yang berbeda. Cara yang aku yakin akan digariskan Tuhan untuk kita. Sampai itu terwujud, "Assalammualaikum Cinta" akan kujaga untuk pertemuan halal kita. ##

Sabtu, 04 November 2017

Puncak Makau2 (top of Makau2 hill)

There are so many nice hills around singkarak lake. Called Gagoan, Akasia, Ahcmad Sadin, Aua Sarumpun, etc. Each of them has a uniquely view, has a differences phanorama. And this is the AWESOME of SINGKARAK.

Singkarak--- become a largest lake in West Sumatera or Ranah Minang. Singkarak connect two of legancy (kabupaten Tanah Datar and Kabupaten Solok). But fokus study here not about Singkarak, but rather about one of hills of Singkarak, Puncak Makau2. One of the most beautiful hill about Singkarak. Be in a Guguak Malalo, Malalo, Batipuah baruah (Southern Malalo), Tanah Datar, West Sumatera. Puncak Makau2 is a complementary of phanorama Singkarak.

About one hour or up two hours tracking from Padang Panjang by motorcycle and as long as Malalo road, will be able to see a collaboration between wet rice field, Singkarak lake and also how kind of Malalo's people after Malalo or when take Guguak Malalo we will pass through a steep grade with unflawless road and it will blocked our way sometime. But it will no matter, because as long as track will seen of phenomenal view Singkarak lake with Marapi, Sago moutains and also phanorama Bukit Barisan.

Puncak Makau2 or the top of Makau2 hill, give something a phenomenal view. All of Singkarak (come to Tanah Datar and Solok) will apparently seen. There some places like Savannah, composition of granite stones and how green other hill after Makau2. Puncak Makau2 was planned be a paragliding spot in West Sumatera after Puncak Lawang and Puncak Langkisau.
Come and visit West Sumatera, the land was created with tectonic activity. Come and feel how the awesomeness West Sumatera, enjoy every step in land Ranah Bundo Kanduang and enjoy the other culture and feel the uniquely of WEST SUMATERA.